Halo.. selamat datang kembali, Semuanyaa.. . Kali ini gue posting cerpen buatan gue yang ternyata masih tercecer di internet. Cerpen ini gue tulis kira-kira lima tahun lalu, jadi harap maklum. Jika diperhatikan masih banyak banget yang harus dikoreksi. Tapi gue tetep post versi aslinya. Selamat menikmati (buat yang baca... huahahah)
Menjadi berbeda itu memang asyik. Lukman baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke 11. Dia anak yang berbeda dan istimewa. Lukman termasuk anak yang mempunyai kemempuan tinggi. Ia sudah dapat membaca saat baru belajar berbicara. Di usianya yang ke tujuh, lukman sudah bisa berbicara dalam tiga bahasa. Lukman mampu menghafal dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa asing walaupun baru sekali mendengarnya. Memorinya sangat tajam, bahkan ia bisa mengingat dengan teliti setiap kata yang ia baca di koran atau majalah.
Pemikiran lukman jauh ke depan dibanding anak-anak seusianya. Saat teman-temannya baru pandai menulis, ia sudah mampu mengobrak-abrik buku panduan belajar, menjawab semua pertanyaan dengan tepat, bahkan ia telah tamat mempelajari buku tiga kelas diatasnya. Satu-satunya kekurangan Lukman adalah tulisannya yang tak lebih bagus dari ceker kuda. Jelas ini karena tangan mungilnya itu tidak mampu mengimbangi kecepatan otaknya berfikir.
Ayah dan ibu Lukman bekerja di luar negeri. Mereka sangat sibuk dan jarang pulang. Biasanya Lukman mengunjungi mereka saat liburan. Tapi Lukman punya nenek yang tinggal bersamanya. Rumah mereka lumaian mewah dengan tiga pembantu rumah tangga. Tapi setiap malam Lukman hanya tinggal bersama neneknya karena pembantu mereka tidak menginap. Sejak kecil Lukman sudah terbiasa mengurus diri sendiri. Ia juga mampu membantu kebutuhan neneknya yang semakin tua itu.
Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi Lukman. Setelah enam tahun di luar negeri, sekarang ayah dan ibu Lukman akan pulang ke Indonesia. Walaupun tujuannya hanya mengunjungi Lukman dan melihat keadaan nenek. Karena hanya sebentar, Lukman tak mau menyianyiakan kesempatan. Baru saja orang tuanya sampai, ia langsung mengajak pergi. Jalan-jalan, nonton film, ke wahana bermain, pergi ke sini, pergi ke sana, minta ini, minta itu, tanpa henti hingga larut malam. Begitu terus-menerus salama tiga hari. Lukman sangat senang semua yang ia minta dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Tapi sayang waktu bersenang-senang akan berakhir. Besok sore orang tuanya akan pulag lagi ke Inggris. Lukman tak mau hari terakhir ini berlalu begitu saja, ia mengajak orang tuanya jalan-jalan ke gunung. “sekarang sudah sore, besok kami mau pulang. lain kali saja ya. “ jelas ibu Lukman. Lukman tetap memaksa orang tuanya. Walaupun sudah dibujuk, ia tetap ingin ditemani pergi ke gunung. Hingga luluh hati orang tuanya karena air mata Lukman.
Udara sejuk dengan hembusan angin yang menenangkan, dari puncak gunung dengan pemandangan alam yang memanjakan mata. Dedaunan hijau, kicau burung, dan cantiknya kupu-kupu menari bahagia menyambut pagi. Keluarga kecil ini duduk santai di tengah jalan di pinggir jurang yang dalam menunggu indahnya mentari pagi manyapa mereka. Dalam suasana yang hangat, tiba-tiba telepon ayah berdering. Lukman sudah menduga, pasti acara ini akan diganggu pekerjaan ayah. Tapi kali ini berbeda, seseorang mengabarkan bahwa nenek Lukman terkena musibah, rumahnya kebakaran. Panik, orang tua Lukman secepat angin langsung tancap gas tanpa memperdulikan anaknya yang sedang asyik mengambil foto bebukitan.
Sadar ditinggal, Lukman langsung mengejar. Lukman berlari sekencang-kencangnya. Lukman terus berlari berharap ayah dan ibunya berhenti sebentar menunggunya. Meski Lukman telah mengerahkan tenaga penuh, ia tak dapat mengejar mobil itu. Hingga gerak Lukman semakin melambat dan apa yang ia kejar perlahan mengecil lalu hilang dari pandangan. Lukman bingung kemana harus ia minta tolong. Di sekitar sini sangat sepi, di kanan dan kiri jalan dan sejauh mata memendang hanya ada hutan dan jurang-jurang yang mengerikan. Dengan kepasrahan Lukman terus berjalan menyusuri jalan. Lukman terus berjalan hingga akhirnya kaki terasa begitu berat untuk berjalan, tubuh melemas, kepala berkunang-kunang, dan penglihatan berputar-putar lalu tak sadarkan diri.
Saat Lukman siuman ia berada di rumah sakit. Di ruang UGD. Tak jauh darinya, sekelompok orang sedang membicarakan korban kebakaran tadi malam. Seseorang berkata “Kasihan sekali nenek itu. Sudah tua malah ditinggal jalan-jalan. Waktu kebakaran tidak bisa menyelamatkan diri, jadi hangus terpanggang.” Lukman terperanjat tak dapat mengatakan apapun, jantungnya berdegup kencang, perasaan takut dan tak percaya seolah menerkam dan membalut raganya. “ iya. Memang tragis, sudah begitu anak dan menantunya juga kecelakaan saat buru-buru menuruni gunung. Sampai meninggal keduanya.” Sambung yang lain. Lukman menggeleng-geleng, wajahnya pucat, bibit membiru, tangan gemetar, air matanya pun bercucuran. Sungguh malang bocah polos ini, begitu berat cobaan yang harus ia tanggung.
Enam tahun telah berlalu peristiwa itu. Kini Lukman sudah 17 tahun. Kejadian itu sangat mengubah hidup Lukman. Semenjak itu Lukman selalu bersedih dan merasa itu semua tidak nyata. Jiwanya begitu tertekan, tak ada yang mampu membuatnya bangkit dari kenangan pahit itu. Sepatah kata pun tak pernah lagi keluar dari mulut periangnya dulu.
karya : Esnida Oktaviyani
XI IPS 3

Komentar
Posting Komentar