Tunas kecil yang menolak mati Dulu aku meminta sepucuk tunas kecil tanaman dari tetangga sebelah rumah. Tunas yang sudah punya tiga lembar daun. Tingginya tak lebih besar dari telapak tanganku. Ku tanam, kuberikan tanah terbaik yang kudapat, kuberi vas cantik yang dibuat sendiri, ku siram air secukupnya, ku taruh di dekat jendela, bahkan ku ajak dia berbicara dan ku bacakan buku-buku di dekat daun-daunnya. Dia tumbuh subur, sehat, dan bahagia. Daunnya berwarna halus dengan ukuran besar-besar, batangnya kokoh, cengkraman akarnya juga sangat kuat. Dia memancarkan aura kebahagiaan, aku pun jadi ikut bahagia ketika melihatnya. Ia terus bertumbuh, terus mengusung daun dan menjadi rimbun. Vas yang kecil pun tak bisa lagi menampungnya. Ku pindahkan ia ke vas yang lebih besar. Lalu ku pindahkan lagi ia ke tempat yang lebih besar. Ku taruh ia di ember yang sudah ku cat warna putih. Ia terus tumbuh, daunnya pun sudah hampir mencapai 30. Namun suatu waktu aku melakukan kesalahan. Ku taruh ia di ...
Hanya catatan-catatan Esnida Oktavia