Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Inspirasi dan Motivasi

Keinginan

Tunas kecil yang menolak mati Dulu aku meminta sepucuk tunas kecil tanaman dari tetangga sebelah rumah. Tunas yang sudah punya tiga lembar daun. Tingginya tak lebih besar dari telapak tanganku. Ku tanam, kuberikan tanah terbaik yang kudapat, kuberi vas cantik yang dibuat sendiri, ku siram air secukupnya, ku taruh di dekat jendela, bahkan ku ajak dia berbicara dan ku bacakan buku-buku di dekat daun-daunnya. Dia tumbuh subur, sehat, dan bahagia. Daunnya berwarna halus dengan ukuran besar-besar, batangnya kokoh, cengkraman akarnya juga sangat kuat. Dia memancarkan aura kebahagiaan, aku pun jadi ikut bahagia ketika melihatnya. Ia terus bertumbuh, terus mengusung daun dan menjadi rimbun. Vas yang kecil pun tak bisa lagi menampungnya. Ku pindahkan ia ke vas yang lebih besar. Lalu ku pindahkan lagi ia ke tempat yang lebih besar. Ku taruh ia di ember yang sudah ku cat warna putih. Ia terus tumbuh, daunnya pun sudah hampir mencapai 30. Namun suatu waktu aku melakukan kesalahan. Ku taruh ia di ...

Cantik

Kini aku semakin yakin, bahwa untuk menjadi pribadi yang disukai itu tidak harus punya kulit putih, tinggi semampai, hidung mancung, muka tirus, rambut lebat, kuku lentik, outfit berpuluh juta, dan sepaket tampilan fisik lainnya. Tampilan fisik memang penting, tapi itu bukan segalanya. Lagipula siapa sih yang mau dekat-dekat dengan orang yang jorok dan bau? Tampilan fisik sudah optimal nilainya jika kita tampil bersih, rapi, tidak bau, dan... emm... kurasa tiga itu saja sudah cukup. Dan tampilan fisik itu, namanya juga fisik, ya cuma bungkusnya saja. Yang penting kan isinya. Kalo isinya menyenangkan, dia nyaman pada dirinya sendiri, berwawasan luas, berpikiran terbuka, berhati baik, bertutur kata sopan dan menghidupkan, perduli dengan orang lain, suka pada kebaikan, seru, dan seabrek perilaku dan sifat positif lainnya, bagaimana bisa kita hanya memperdulikan fisiknya?

Jurnal

Sore tadi aku menonton rekaman webinar tentang menjurnal. Itu loh, kegiatan menuliskan sesuatu yang dipikirkan, yang dirasakan, atau direncanakan ke dalam sebuah buku. Ya, bisanya dulu kita menyebutnya buku harian atau diary . Kini penyebutannya sudah agak bergeser (sepertinya), menjadi journal . Dan kegiatannya disebut menjurnal atau journaling . Sebenarnya ada banyak banget referensi yang membahas tentang kegiatan journaling . Mulai dari sebuah buku yang berjudul The Bullet Journal Method  tulisan pak Ryder Carroll, sampai ke video-video yang membuat jurnal-jurnal cantik dengan berbagai tema dan warna menarik. Tapi sore ini aku menemukan referensi yang berbeda. Mereka membuat webinar tentang Jurnal Dalam Islam. Pengisinya adalah ustad Arif Rahman Lubis. Acara ini diselenggarakan oleh Teman Cerita x Madina Al Quran. Setelah menonton webinar ini, aku jadi ingat kembali kalau menjurnal itu bermanfaat untuk banyak hal. Mulai dari bisa menjaga keberkahan waktu, bisa menjaga keseh...

Konsisten Adalah Kekuatan

Tidak sebentar aku mempelajari hal ini, namun tak kunjung mendapatkan hasil. Usahaku tidak kurang, konsisten sudah dijaga, pengembangan sudah dilakukan, waktu sudah banyak ku habiskan. Namun tanganku masih saja hampa. Sore ini aku belajar sesuatu tentang kesabaran dan konsistensi. Tentang proses seseorang yang membelah tembok dengan paku dan palu. Bahwa dia harus sabar dan konsisiten melakukan pukulan demi pukulan yang sama sekali tidak ada hasilnya. Tidak menunjukkan progres apa-apa. Dibutuhkan puluhan bahkan ratusan pukulan, hingga pada satu titik, dimana satu pukulan saja, telak membelah dan merubuhkan tembok yang kokoh itu.

Ujian Tekad

Di salah satu buku karyanya, Paulo Coelho bilang kalau kehidupan punya dua cara untuk menguji tekad kita. Nomor 1, dengan tidak terjadi apa-apa. Atau nomor 2, dengan membuat semuanya terjadi berbarengan. Saya teringat sebuah kisah mitos tentang kodok rebus yang pernah saya tonton di channel ted-ed. Ceritanya begini, suatu hari ada dua ekor kodok yang lagi asik ngobrol di pinggir kali. Kemudian dua kodok tersebut diculik, mereka dibawa ke dapur oleh seorang koki. Kodok pertama dimasukkan ke dalam panci yang berisi air mendidih, seketika kodok itu langsung melompat keluar dari panci, lalu melarikan diri dari dapur sang koki. Di sisi lain, sang koki mengisi ulang pancinya dengan air dingin dan memasukkan kodok kedua kesana. Panci tersebut ditaruh di atas kompor dengan nyala api yang sangat-sangat kecil. Sang koki menaikkan nyala api sedikit demi sedikit, sangat sedikit demi sedikit. Kodok kedua tidak menyadari kalau suhu air di dalam panci semakin panas, sampai ketika ia akan menyadarinya...

Untuk Kamu Yang Sedang Berjuang

Saya harap dengan tulisan ini saya bisa menjadi sedikit berguna untukmu. Beberapa hari ini angin berhembus mengabarkan kepada saya bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja. Saya yakin kamu begitu membutuhkan dukungan dan sebuah rasa percaya dari setidaknya satu orang saja. Itulah mengapa saya menulis ini. Saya ingin kamu tau, kalau setidaknya, di sini saya ada dan mendukungmu dengan sepenuh jiwa. Saya tau persis apa yang sedang kamu hadapi. Saya tau kamu sedang terkalahkan, ditawan oleh jiwamu yang lain. Kamu melawan, namun jiwamu yang lain itu ternyata begitu berkuasa. Dia ibarat dinding baja yang tak terlihat ujung kanan kirinya, tak juga terukur tinggi dan tebalnya, tak memberimu kebebasan untuk melakukan apa yang harusnya kamu kerjakan. Ingin sekali rasanya saya ikut membantu perlawananmu untuk keluar dari situ. Atau setidaknya hadir di sampingmu, datang untuk menemanimu, mendengar seluruh kesah dan resahmu. Saya melihat kamu begitu kewalahan. Memang berat, memang berat sekali perker...

Mengendalikan Takdir Hidup (bag. II)

Lanjut ya dari bagian 1 Pertama kita harus mengetahui dulu apa sebenernya permasalahan diri kita. Misal, permasalah kita adalah mageran, males gerak. Kita sering nunda sampai banyak tugas dan pekerjaan hanya dikerjalan seadanya (tidak mengerjakan dengan usaha terbaik). Setelah kita tau permasalahannya, maka kita harus melakukan sesuatu untuk melawan kemageran ini. caranya dengan menginstal program anti mager. Apa saja yang harus dilakukan untuk melawan kemageran? Kalo ini sih, kalian cari aja di internet, bisa juga dari baca buku, kursus, ikut seminar onlen, nonton video self improvement, dan lain-lain. Disana sudah tersedia ratusan bahkan ribuah tips anti mager, langkah-langkah menghilangkan kemageran, bla bla bla... Semua tips itu adalah cara-cara yang bisa kita kendalikan, alias akan menjadi pengetahuan dan masuk ke pikiran kreatif kita yang porsinya 5% tadi. Nggak akan mempan untuk melawan program toxic yang sudah terlanjur terinstal bertahun-tahun dalam pikiran bawah sadar kita. T...

Mengendalikan Takdir Hidup (bag. I)

sun rise Mengaku saja, pasti di tahun baru ini kamu juga bikin resolusi tahunan. Pengen melakukan ini, pengen mencapai itu, pengen punya kebiasaan ini, pengen menambah kemampuan itu. Pokoknya banyak deh, baik dan keren-keren pula. Berkaca dengan resolusi-resolusi tahun-tahun sebelumnya, kita pasti kepikiran juga, "Apa semua ini bisa tercapai ya?" Kita meragukan diri sendiri, karena memang kenyataannya kita nggak sedisiplin itu. Bisa jadi kita semangat membara dan punya keyakinan 100% pada awal Januari, akhir bulan udah ada satu-persatu pelanggaran. Awal Februari pelanggaran makin bertambah, akhir Februari ambyar. Ya... paling banter sampe awal Maret, atau akhir maret deh. Abis itu, sudahlah... kita mulai pesimis. Makin jauh dengan catatan resolusi yang indah itu. Kamu banget kan pasti ini? Sudah, tak usah malu, kita semua sama, hehe... kita masuk ke kelompok 92% orang yang gagal menjalankan resolusi tahunan. Karena memang faktanya, hanya 8% pembuat resolusi tahunan yang berha...

Kita Selalu Bertemu Dengan Apa Yang Kita Cari

(pintu masjid Al-Mujahidin Pamulang) Assalamualaikum lagi temen internet! Semoga kamu baik selalu yaa. Semoga telah bertambah ilmu dan kekuatanmu. Saya ikut senang saat kamu bertambah pintar dan bertambah kuat, saya pun sedang berusaha melawan kegoblokan dan kelemahan diri ini, hehe... Kata salah satu ustad yang sering saya denger nasihatnya, sebagai muslim yang beriman kita harus tangguh . Intinya yang saya tankep adalah, pikiran kita nggak boleh bodoh, logika kita nggak boleh tumpul, makanya harus selalu belajar. Raga kita nggak boleh letoy kelemar-kelemer, harus selalu bugar dan sehat. Jiwa kita nggak boleh lemah, nggak boleh insekyuur terus, nggak boleh cengeng. Pokoknya kita harus mengusahakan menjadi muslim tangguh, terlepas dari segala ketentuan yang Allah takdirkan. Oke, kali ini saya mau nulis tentang kehidupan di dunia ini yang merupakan kumpulan pilihan-pilihan. Mari kita mulai tulisan ini dengan cerita dari buya Hamka. Ceritanya kira-kira begini, suatu hari seorang pria...

Tinggal Pilih

Saya teringat pesan nenek saya dahulu, saat saya beralasan ini itu untuk tidak pergi mengaji subuh. Saya bilang saya mau saja pergi ngaji subuh, tapi saya sedang tidak enak badan, saya juga masih ada PR yang belum selesai, saya bilang bisa saja guru ngajinya nggak dateng, bisa saja teman saya juga nggak pada dateng karena kami ada PR, saya begini, saya begitu.. Biarpun demikian, saya tetap meyakinkan nenek bahwa saya mau mengaji. Saya tidak mau nenek menganggap saya malas mengaji. Saya juga tidak mau berdosa karena bolos mengaji. Tanggapan nenek waktu itu hanya dengan sebuah pernyataan. Kira-kira begini katanya: " Nak? Pe tak nak? Kalu nak, seribu daye. Kalu tak nak, seribu dalih. " Jika ditranslate ke bahasa Indonesia, artinya adalah: "Mau? Atau tidak mau? Kalo mau, akan ada seribu cara. Kalo nggak mau, akan ada seribu alasan." Sekarang ini baru saya mengerti makna dari kata-kata itu. No Excuse . Jika kita benar-benar menginginkan sesuatu, jika kit...

Ikut Training PPA (Pola Pertolongan Allah)

dar kiri: bunda Fitri, Mawar, Melis, saya, Teh Ibah Haloo lagi teman per-internet-an duniawikuhh... apa kabar kamu? semoga baik-baik saja ya. Kali ini saya akan cerita tentang pengalaman ikut training PPA alias Pola Pertolongan Allah. Sebenernya saya ikut agenda ini pada tanggal 21 Desember 2019, tapi baru terniat nulis ceritanya hari ini hehe... Oke kita mulai aja. Jadi temen-temen, ini tuh adalah semacam training motivasi untuk menyadarkan kita (umat muslim) biar kembali ke jalan yang benar. Ya, kembali ke jalan yang benar sesuai fitrah seorang muslim. Kembali ke jalan yang benar setelah terombang-ambing di dalam kehidupan per-duniawi-an yang tak jelas pangkal ujungnya ini. Seperti training motivasi pada umumnya, disana saya dibuat nangis, inget dosa, inget Tuhan, ingat mati. Tapi yang paling saya syukuri adalah, kali ini tangis saya bukan sekedar tangisan buaya. Saya merasa training kali ini berhasil menyadarkan saya, sehingga sedikit demi sedikit muncul perubahan pa...

Jalan Dimana Hidayah Turun Lewat Kepala Masuk Ke Hati

Suatu malam, dini hari pukul 00.00 tepatnya, di rest area KM 164 tol Cipali. Saya mengobrol panjang lebar dengan seorang saudara. Obrolan kami cukup menarik, mulai dari bahasan tentang buku-buku bagus, film, perilaku sosial, sejarah, perkembangan teknologi, sampai kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan. Dari obrolan yang nyaris berlangsung selama 3 jam itu, saya berpikir lebih banyak lagi mengenai eksistensi diri. Lalu bermunculan pertanyaan sederhana yang sangat sulit ditemukan jawabannya di kepala. Apa yang sedang saya lakukan? Mengapa saya lakukan ini? Untuk apa sebenarnya saya lakukan? Apa yang sebenarnya saya inginkan? Kenapa saya hidup? Kenapa Tuhan menciptakan saya? Kenapa Tuhan menciptakan saya yang begini, disini, bersama orang-orang ini? Saya sadar, pikiran saya belum sekuat dan seluas itu untuk mendapatkan semua jawaban. Lalu dari puing-puing pengetahuan dan pengalaman selama ini, perlahan saya mulai masuk ke jalur-jal...

Mojuk Yuk!

Haloo internet! Kali ini saya akan bercerita tentang mojuk,  alright, here we go ! Saya awali cerita kali ini dari pengalaman saya yang selalu gagal dalam berkompetisi. Kalo dinget-inget, saya ini satu kali pun nggak pernah menang dalam berkompetisi. Dulu saat masih SD saya ikut lomba makan kerupuk lalu kalah, ikut lomba lari juga kalah, lomba senam pramuka dan kalah, bertanding bola volley juga kalah, lomba cerdas cermat juga kalah, lomba main karet dengan teman pun saya kalah. Beranjak ke usia SMP, ikut lomba membuat tandu dan saya kalah lagi, lomba baris-berbaris juga kalah, lomba pidato juga kalah, lomba tari tradisional juga kalah, ikut olimpiade sains juga kalah, lomba kelas terbersih pun kelas saya kalah. Entah mengapa selalu begitu, padahal saya sudah berusaha. Lanjut ke usia SMA, saya ikut lomba pidato lagi lalu kalah lagi. Ikut lomba vocal grup juga kalah, ikut lomba 17an kalah. Lomba menulis essay kalah, menulis skenario film juga kalah. Lomba akuntansi j...

Telan Saja, Jangan Banyak Bicara

Haloo internet, haloo kamu, iya kamu... Kali ini saya akan menceritakan satu kesadaran lain yang baru saja tumbuh di dalam diri saya. Ini menyangkut keangkuhan dan keras kepala yang normal dimiliki para pemuda. Jadi begini ceritanya, saya kan masih magang di Menara Pejompongan. Sudah masuk bulan keempat. Pada awal-awal magang, saya merasa mereka "salah" memperlakukan saya. Apakah mereka tidak berpikir saat memberi saya tugas remeh-temeh yang sangat tidak penting. ya.. tugas-tugas seperti meng-entry data, membuat bagan, merapikan kolom exel, memfotokopi, membuka straples, dan lain-lain membuat saya merasa dilecehkan. Dalam hati saya bergumam "Ayolah, beri saya tugas yang berat sedikit, yang membuat otak saya berpikir. Yakali saya tugasnya cuma nysun-nyusun kertas berdasarkan abjad doang, c'mon .. anak SD juga bisa..." Memang benar, kadang kita merasa diri kita ini berharga. Kita merasa begini, yakali kita cuma ngerjain ini, nggak pantaslah, nggak level...

3 Keyakinan dalam Berkarya

Haloo lagi semuanya, kali ini saya mau berbagi mengenai prinsip dan keyakinan saya dalam menulis dan merawat blog random ala-ala ini. Jadi sebenernya, buat nulis secara konsisiten itu sangatlah berat kalo kita nggak punya keyakinan terhadap apa yang kita lakukan.  Meskipun isi blog ini hanyalah sampah-sampah yang berseliweran di kepala saya, ternyata untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan tidaklah mudah. Menterjemahkan apa yang kita pikirkan kedalam rangkaian kata-kata yang setidaknya bisa dimengerti pembaca dengan baik itu menjadi tantangan tersendiri.  Maka dari itu, saya meyakinkan diri untuk tetap menulis karena beberapa prinsip beriktu ini. Prinsip-prinsip ini saya kutip dari tulisannya bang Iqbal Hariadi di buku yang judulnya Bertunbuh. Pertama, saya menyakini bahwa karya sampah di awal memulai itu adalah hal biasa . Kita seringkali minder buat menekuni sesuatu atau dalam hal ini mem publish tulisan karena merasa tulisannya jelek, nggak berfaedah, nggak berb...

Tentang Rembulan di Atas Gelanggang

Suatu malam bersama Devina Raisya di Istora Senayan Saya kadang heran, bagaimana bisa seorang perempuan dapat menjelajah kehidupan ini dengan cara yang begitu keren! Salah satu yang saya akui keren adalah sosok yang bersama saya di suatu malam di bawah naugan rembulan tanggal 13 ini. Dia kuat dan tangguh, dia pandai dan lincah, dia dia lembut dan penyayang, dia tegas dan pengertian, dia berkharisma dan memesona. Semoga dia selalu dalam lindungan dan kasih sayang Allah. Dan bersama rembulan

Bawang Goreng

Selamat datang lagi semuanyaa... Kali ini gue mau cerita tentang makanan. Apa sih yang perlu kita tau tentang makanan? atau mungkin sebenernya kita sudah tau tapi melupakannya. Tulisan ini terispirasi dari bawang goreng kemasan yang gue makan tadi siang. Siang ini, hari rabu tanggal 29 Agustus 2018, untuk pertama kalinya dalam hidup, gue dengan sengaja, sadar, tanpa tekanan dari pihak manapun menaburkan bawang goreng ke makanan dan gue memakannya, menikmatinya malah. Padahal gue udah musuhan sama bawang goreng dari jaman SD. Kalian semua tentu tau kalo orang-orang di dunia ini punya lidah masing-masing. Jadi semua juga memiliki selera makan masing-masing. Ada yang suka makanan pedas, ada yang suka makanan manis, ada yang suka makanan asin sekali, ada juga yang suka makanan serba hambar. Bahkan ada juga yang suka semua, kecuali makanan tertentu. Gue sendiri dulu waktu kecil sangat pilih-pilih sama makanan. Gue gak suka sayur, gak suka kuning telur, gak suka nanas, gak suka da...

Belajar Menerima

Suatu siang di lahan yang akan ditanami padi Haloo lagi semuanya, kali ini gue mau cerita cerita-ceritaan yang agak panjang. Gak tau deh bakalan panjang biasa atau panjang banget. Kali ini gue mau curhat santai tentang keresahan gue terhadap orang-orang di sekitar gue terutama cewe-cewe yang kurang respek sama bentuk muka dan tubuh mereka. Cus, kita mulai ceritanya dari diri gue sendiri. Dulu gue itu selalu minder kalo berada di deket temen yang cantik-cantik, berkulit putih bersih, tinggi semampai, wangi, dan pinter dandan. Gue ngeliat lagi ke diri gue ini, gue berkaca, dan gue temukan diri gue yang... ya… sebut saja tinggi badan ala kadarnya, warna kulit mendekati gelap, idung gue pesek, pipi gue tembem gila, mata gue sipit banget kaya merem mulu. Kita itu pada dasarnya gampang sekali mencari kekurangan fisik sendiri dan membandingkannya dengan orang lain. Tapi makin kesini gue makin mikir, gue gak bersyukur banget ya udah dikasi body yang lengkap. Gue gak bersukur ...