Halo hai lagi.. hari ini saya akan bercerita sedikit tentang kebodohan dan kesombongan. langsung aja, begini ceritanya.
Dulu ada seorang dosen bercerita di kelas bahwa beliau tidak habis pikir kepada mahasiswa yang bodohnya "kebangetan". Dengan nada bicara sedikit marah dan jengkel beliau bercerita bahwa ada seorang mahasiswa yang dateng ke rumah beliau untuk meminta tanda tangan. Beliau yang sedang terburu-buru akan pergi bersedia memberi tanda tangannya. Akan tetapi si mahasiswa ini tidak membawa pulpen.
Ya.. menurut saya pribadi sih, wajar sekali jika mahasiswa itu kena marah. Dia yang ingin minta tanda tangan, tapi dia tidak menyiapkan pulpen. Pikiran saya saat itu adalah bodoh sekali memang mahasiswa itu, sudah cape-cape ngejar dosen pagi-pagi, dalam kondisi terburu-buru, mau minta tanda tangan, eh malah nggak menyiapkan pulpen? Benar memang kata si bapak dosen, bodohnya kebangetan.
_________________________________________________________
Saya pergi ke rumah dosen pembimbing akademik hari ini. Saya berencana untuk meminta tanda tangan untuk validasi kartu rencana studi (KRS) semester 8. Seperti pada semester-semerter sebelumnya, kami ber-4 yang dibimbing oleh dosen yang sama harus datang ke rumah beliau untuk bertemu langsung meminta tanda tangan. Namun hari ini saya hanya pergi bersama seorang teman karena dua orang teman lain sedang magang. Jika tidak ada alasan yang kuat, tentu ibu dosen pembimbing akan mempermasalahkan ketidakhadiran mereka berdua.
Saya berangkat bersama seorang teman ini pada jam dua siang, di tengan panas-panasnya hari. Kami tiba di rumah dosen pembimbing sekitar 10 menit kemudian. Sang dosen sudah membuat janji kepada kami bahwa kami disuruh datang hari ini juga. Namun sayang ketika kami tiba, sang dosen sedang tak berada di rumah, "sedang test drive" kata asistennya. Lalu kami menunggu di depan rumahnya, terlunta-lunta nyaris selama satu jam.
Setelah sang dosen tiba di rumah, kami langsung menyambut beliau dengan berniat meminta tanda tangan. Saya langsung menyodorkan berkas yang akan ditandatangani. Namun tiba-tiba saya panik saat sang dosen meminta pulpen. Saya baru ingat kalau pulpen saya semuanya tertinggal di meja kamar. Saya mencoba meminta pulpen pada teman saya, namun dia juga tidak ada!
Alhasil, dengan rasa tidak senang dan sedikit omelan sang dosen mengeluarkan pulpen dari dalam tas beliau. Menandatangani berkas kami lalu langsung masuk ke rumah. Saya merasa malu sekali, merasa sangat bodoh! Saya langsung teringat pada cerita bapak dosen pada suatu saat itu. Ah, sekecil apapun kesalahan atau keburukan orang lain, cobalah untuk tidak menyepelekannya. Karena bisa jadi hal kecil itu juga akan terjadi pada diri sendiri. Dan akan membuat rasa malu dan rasa bodoh dua kali lebih dalam daripada yang pernah disepelekan.
Ya, gitu kira-kira ceritanya. Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya..
Komentar
Posting Komentar