Langsung ke konten utama

Pamulang-Ciledug dan Tas Butut berharga 100 juta

(minggir jalan)

Hallo lagi temen internet, selamat datang kembali di blog ala-ala aduhaii ini, seperti biasa, mari kita mulai tulisan ini dengan sepotong doa. Semoga kamu yang membaca tulisan ini dalam keadaan sehat dan bahagia, aamiin. Dan jika pun dunia sedang tidak berpihak padamu, tolong bersabarlah, situasi itu hanya sementara. Ada kiriman salam dari saya untukmu, telah saya kirim siang ini pada tanggal 8 Agustus 2020. Sudah sampaikah padamu? Aku harap iya, dan kau sedang tersenyum.

Baiklah, hari ini saya akan bercerita pengalaman mingguan, kali ini perihal pekerjaan. Setiap hari saya bekerja sebagai admin di salah satu usaha rintisan di daerah Tangerang Selatan. Lebih dari admin, saya merasa sedang mengelola operasional usaha ini sendirian. Mulai dari belanja stok, menjemput barang, melakukan sales, menerima pesanan customer dan memprosesnya, packing barang, mengirimkan dan mengantarkan pesanan, sampai membuat laporan penjualan dan pembelian saya sendiri yang melakukan.

Ketika awal bekerja di sana, atasan saya bilang kalau jam kerja saya adalah jam kantor. Senin-jumat jam 09.00 sampai jam 17.00. Seiring berjalannya waktu, jam operasional bekerja saya susah ditertibkan. Saya harus selalu siap sedia merespon dan melayani customer, bahkan di tengah malam, di waktu sehabis subuh, di hari libur.

Saya selalu kesal ketika ada customer yang memesan pada malam hari atau pada hari libur. Ketika tidak saya layani, pelanggan itu menelpon atasan saya dan bilang dia tidak dilayani. Lalu atasan saya menelpon saya secara pribadi dan marah-marah meminta agar si customer segera dilayani. Tentu saja saya mengeluh walaupun cuma di dalam hati.

Selain karena komplain pelanggan, saya juga harus menghadapi resiko-resiko lain. Salah satu yang membuat saya tidak betah bekerja di sini adalah tugas untuk menjemput barang ke pusat. Kamu bayangkan saja, saya harus menjemput barang itu dari Pamulang ke Ciledug. Lebih dari 2 jam saya mengendarai motor sendirian. Tak enaknya lagi, penjemputan barang cuma bisa dilakukan di malam hari. Biasanya saya berangkat sehabis magrib dan baru sampai ke rumah lagi jam 9 malam.

Ah, lebay kamu Esnida... gitu doang..,

Eits, sebentar. Barang yang saya jemput bukanlah sembarang barang. Walaupun semua barang bisa muat masuk ke dalam tas, nilainya itu yang bikin ngeri. Saat melakukan penjemputan, tas saya yang harganya cuma 50 ribu itu bisa menjadi berharga 2.000 kali lipat ketika diisi barang jemputan. Saya khawatir jika terjadi hal yang buruk.

Pikiran buruk saya, bagaimana jika saya diikuti orang jahat lalu dirampok? Bagaimana cara saya mengganti kerugiannya? Lalu ketika melakukan pengiriman barang, bagaimana kalau barangnya tak sampai ke pelanggan dan pihak ekspedisi tak mau mengganti sebesar nilai barang yang saya kirim? Bagaimana jika saat melakukan COD ternyata saya ditipu dan barangnya dirampas dan dibawa lari? Dengan apa saya mengantinya sedangkan gaji saya nilainya jauh dibawah transaksi yang biasa terjadi? Namun alhamdulillah sejauh ini, tak pernah ada hal buruk terjadi.

Sebenarnya saya sudah sangat tidak nyaman dengan semua situasi ini. Tapi ada yang bilang kalau ketidak nyamanan itu adalah tanda kita bertumbuh. Kita lihat saja, sampai kapan saya akan bertahan dengan situasi ini. Semoga saya bisa mengambil pelajaran atas semua yang telah terjadi dan sedang terjadi. Semoga saya benar-benar bertumbuh sekarang.

Baik, rasanya cukup segini aja cerita kali ini. Sampai jumpa di cerita lainnya~

Komentar