Kali ini saya mau cerita tentang perjalanan usaha bikin bisnis ala-ala et tapi serius. Gini pemirsa, sebenernya bukan hal baru bagi saya untuk memasuki dunia wirausaha. Sebelumnya saya udah pernah main-main di sana. Saya pernah jadi reseller, jadi dropshipper, saya juga pernah bikin usaha bareng temen, pernah juga sekedar kerja bantuin usaha orang lain. Tapi semua itu ujung-ujungnya mandek karena saya bosen dan males.
Sombong banget ya? Bilangnya bosen sama males. Eh tapi bener loh, kegiatan-kegiatan itu bikin saya males buat gerak. Sebab utamanya adalah motivasi yang nggak kena di hati. Motivasi kebanyakan mereka yang ingin jadi pengusaha adalah ingin jadi kaya, dan saya tidak mau jadi kaya. Mereka ingin menjadi hebat, sementara saya ingin menjadi orang biasa-biasa saja. Mereka ingin menjual sebanyak-banyaknya, membuat orang menjadi pelanggan setia, membeli lagi dan lagi. Sedangkan saya sangat benci pada budaya konsumtif.
Saya sangat pegal hati menyaksikan orang-orang yang selalu berbelanja. Apalagi ketika saya tau barang yang dibeli sebenernya nggak perlu-perlu banget. Ya walaupun duit duit mereka, hak mereka, tapi saya tetep nggak seneng aja gitu. Bukannya iri atau tidak mampu, saya kasian aja. Mereka menjadi korban iklan, korban trend, korban kerakusan orang-orang yang berambisi ingin menjadi kaya. Mereka dibuat seolah-olah menikmati, seolah-olah bahagia, seolah-olah "gue banget".
Selain itu saya juga miris dengan perilaku manusia yang udah banyak banget menyakiti bumi. Terutama soal sampah. Dari mana lagi datangnya sampah kalo bukan dari perilaku konsumsi. Semua yang dikonsumsi selalu menghasilkan sampah. Satu orang menghasilkan rata-rata 64 ton sampah selama hidup. Kalo dibayangin, itu setara dengan berat badan 100 orang dewasa. Atau dengan kata lain kita menghasilkan sampah 100 kali lipat dari berat badan kita sendiri. Damn!
Kalo boleh jadi alasan, membuat pelanggan menjadi setia alias konsumtif adalah sebab saya berhenti menjadi reseller dan dropshipper. Ini menjadi semacam paradoks gitu, saya pengen bergerak di bidang wirausaha tapi saya benci membuat pelanggan saya membeli lagi dan lagi. But, it's a lucky me! Akhirnya saya menemukan titik perpotongan antara dua idealisme itu.
Setelah pencarian dan riset panjang, saya memutuskan untuk serius berwirausaha. Bidang yang saya geluti adalah produk ramah lingkungan a.k.a produk-produk zero waste terutama yang berbahan dasar bambu. Saya ingin berkontribusi untuk menyelamatkan bumi ini dari produksi sampah yang kian hari kian menggila. Saya juga bermimpi dapat menyadarkan orang-orang untuk perduli dengan kesehatan bumi. Juga ingin mendirikan komunitas peduli bumi yang bisa memberi manfaat luas.
Semua ini sangat tidak mudah untuk diwujudkan. Saya bukanlah siapa-siapa, ilmu dan kapasitas saya belum seberapa. Meski begitu, saya tetap berusaha berbuat banyak untuk dunia. Semoga Allah menyambut niat baik saya. Bukankah hidup orang nggak ada yang tau? Sekarang saya memang masih susah, tapi belum tau ke depannya seperti apa.
Sekian dulu cerita kali ini, saya sambung lain kali. Terima kasih.
![]() |
| Bismillah: langkah pertama sebuah rencana raksasa |
![]() |
| bismillah: cikal bakal komunitas penuh manfaat |


Komentar
Posting Komentar