Langsung ke konten utama

Oleh-oleh bootcamp ELC 2019

Hallo pemirsa.. selamat dateng lagi di blog ala-ala aduhaii ini.. Kali ini saya mau sedikit cerita tantang pengalaman yang minggu ini terjadi. It was ELC's boothcamp. 

ELC adalah organisasi mahasiswa bidang kewirausahaan di kampus, dan saya masih aktif di dalamnya. Pada tanggal 22-24 November kemarin, kami melaksanakan boothcamp sebagai puncak rangkaian perekrutan anggota baru tahun 2019. Acara ini dilaksanakan di villa Puspiptek, Serpong Tangerang Selatan.

Ada beberapa hal berkesan pada cerita kali ini, lumayan bikin mikir kalo ternyata saya ini benar-benar nggak ada apa-apanya. Ternyata banyak sekali hal yang terlewat dalam proses pertambahan umur saya yang hari ini sudah officially 22 tahun lebih 1 bulan. Oiya, Happy birthday to me! yey! woohoo!

Hal pertama adalah mengenai kemampuan public speaking saya yang super ancurr. Saya mengkategorikan super hancur karena ketika saya diminta untuk menyampaikan sebuah materi di boothcamp, saya merasa sangat gugup. Lantas saat berada di panggung, saya merasa tidak komunikatif dan kurang audience oriented. Saya hanya menyampaikan seperlunya saja, tidak perduli apakah pendengar mengerti atau tidak. Saya merasa energi saya tiba-tiba lenyap, ingin cepat-cepat selesai dan ingin enyah dari sana.

Kalo diiget-inget lagi, dulu saya lumayan baik dalam mempresentasikan sesuatu. Malah, tak jarang presentasi saya atau kelompok saya dipuji guru-guru dan dosen. Tapi entah kenapa, lebih dari satu tahun belakangan ini saya merasa sangat tidak nyaman berada di depan umum atau menjadi pusat perhatian. Saya enggan bertemu orang banyak apalagi membuka pembicaraan.

Ah, sudahlah.. tak apa-apa.

Lalu hal kedua yang berkesan bagi saya saat boothcamp adalah ketertinggalan dalam dunia bisnis dibandingkan temen-temen yang berada di sekeliling saya. Perasaan ini muncul ketika saya mendegar cerita pengalaman bisnis sebut saja si Mawar dan si Melati. Mereka yang masih seumur dengan saya bahkan lebih muda, sudah melalang buana berjibaku dengan entrepreneurship. Sedangkan saya? Mulai launching produk saja belum, masih takut-takut dan kurang yakin.

Bukannya merasa termotivasi, saya malah merasa sayalah yang paling bodoh, paling jelek, paling kotor, paling tak berilmu diantara teman-teman lingkaran itu. Saya jadi super minder, ingin lari saja rasanya. Mereka semua hebat-hebat, pejuang tangguh, konsisten, percaya diri, dan disayangi. Saya?

Ah, sudahlah.. tak apa-apa.

Hal terkhir yang juga lumayan berkesan adalah saat salah satu adek angkatan saya bilang "Hayoo siapa yang nggak pasang foto twibbon? Nggak menghargai anak dekdok yang udah bikin." Nyess.. itu jleb banget sih, soalnya selama ini saya nggak pernah mau pasang foto twibon di acara apapun. Saya pikir itu adalah hal sepele, nggak berguna, dan terkesan alay. Entah setan apa yang sudah merasuki saya, sampai saya mikir naif seperti itu.

Ternyata perihal twibbon tidak sesepele itu, ada kerja keras didalamnya, ada yang pusing mikir caption, ada designer yang jam tidurnya harus dipangkas, ada beberapa kali revisi, ada cek-cok setuju tidak setuju, dll. Intinya, hal yang menurut kita paling sepele pun, ternyata ada hati dibaik kemunculannya. Jangan sampai menyakiti hati itu dengan tidak menghargainya. 

Yauda deh, sampe sini aja ceritanya, sekian terima kasih, sampai jumpa di curhat-curhat selanjutnya...

Sesi presentasi materi


Pemberian sertifikat oleh ketua pelaksana





Komentar