Langsung ke konten utama

Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap



Hallo lagi Internet..
Udah sebulan lebih saya nggak nulis-nulis di sini. Resolusi gagal alert! Hahaha.. Dulu pas tahun baru saya punya resolusi buat produktif nulis di blog ini. Targetnya, posting dua tulisan setiap minggu. Hari selasa jadwal posting review buku dan hari sabtu review kegiatan/pembelajaran selama satu minggu itu.

Alhamdulillah bulan januari sampe pertengahan februari masih ada postingan, dan semuanya tentang review kegiatan. Nahas, semua jadwal posting review buku telah terlewat. Tulisan kali ini adalah postingan  pertama review buku di tahun 2020. Sudah lumayan telat untuk awal menjalankan resolusi tahunan. Tapi tak apa, untuk beberapa hal, terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Wess.. kita mulai saja. Sesuai dengan judulnya, kali ini saya akan mereview buku yang judulnya Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap. Udah pada tau pasti ini buku isinya apaan? Ya, ini adalah sebuah novel yang menceritakan kisah hidup sang kekasih kekasih-Nya. Khadijah al-Kubra, ialah istri dari Rasulullah Muhammad yang mulia.

Novel ini ditulis pada tahun 2009 oleh ibu Sibel Eraslan, seorang wanita kelahiran Istanbul 53 tahun lalu. Beliau adalah penulis banyak novel tokoh-tokoh muslimah dan juga aktif sebagai wartawan dan menulis di berbagai majalah di Turki.

Novel Khadijah yang saya baca adalah versi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Saya dapat dari meminjam ke perpustakaan pusat UIN Jakarta. Secara fisik novel ini biasa saja, seperti bentuk buku berukuran A5 pada umumnya. Novel ini memiliki 388 + xxxii (32) halaman. Diterbitkan oleh Kaysa Media pada tahun 2014. 

Saya sudah 2 kali memperpanjang peminjaman buku ini alias sudah 2 minggu lebih buku ini ada bersama saya. Saya bacanya sepotong-sepotong, dan baru selesai malam ini. Bukan karena saya tidak tertarik, justru isinya sangat menarik sehingga saya membatasi diri membacanya biar nggak cepet selesai. Alasannya karena saya jadi agak sedih saat menyelesaikan cerita sebagus itu.

Di novel ini, penulis menceritakan kembali kisah Khadijah dari lahir sampai pada saat-saat terakhirnya. Mulai dari asal keturunannya, masa mudanya, bagaimana pertemuannya dengan al-Amin, kegigihan dan konsistensinya, pengorbanannya, sampai kasih sayangnya yang begitu luas membentang. Bagaimana beliau menemani dan mendukung suaminya pada masa awal mengemban risalah dalam memberi peringatan dan kabar gembira bagi seluruh umat manusia.

Dari novel ini bertambahlah kecintaan saya pada bunda Khadijah. Sekarang beliaulah idola dan panutan saya nomor 1. Saya berkeinginan untuk bisa berdiri kokoh dan penuh kasih sayang seperti beliau. Ialah seorang yang terlahir awal, bangun awal, dan berjalan awal. Sosok yang cekatan, ia besar karena kedermawanan dan kasih sayang.

Bagian favorit saya di buku ini adalah pada bab yang judulnya Seperti Lautan di halaman 322. Di bab itu dituliskan bagaimana sosok sang Khadijah yang sabar dan tabah. Beliau adalah tempat bersandar segala hati. Seorang ibu sejati. Dan juga di bagian saat Khadijah dan al-Amin menemukan satu bahasa baru selama melakukan pendakian di gunung Hira. Bahasa yang tak memiliki suara dan huruf, bahasa cinta mereka berdua, mereka saling mengerti tanpa berbicara.

Btw saat membaca novel ini, saya sampe senyum-senyum sendiri dan juga sampe meneteskan air mata saking menghayatinya. Cerita dan penulisannya sangat mengaduk emosi. Novel ini sangat recomended buat dibaca, harus dibaca malah, hehe..

Hmm.. kayanya segini aja review kali ini. Sampe sini aja ya.. dahh...~




Komentar