Langsung ke konten utama

Antisosial


Untuk anak-anakku (baian 3)

Halo anak-anakku, ibu doakan semoga kalian sehat dan bahagia selalu ya. Semoga kalian selalu sabar dan giat mendidik diri kalian, semoga kalian juga bisa menyayangi diri kalian degan baik. Karena anak-anak ibu sangat pantas disayang, ibu juga sangat sayang pada kalian.

Ibu mau bercerita sesuatu hari ini. Mengenai perilaku ibu yang bahkan sedikit mengejutkan ibu sendiri. Sekarang adalah semingu setelah lebaran tahun 2022. Lebaran ibu tahun ini memang sedikit berbeda. Selain ibu tidak ikut sholat ied, ibu juga menyendiri di rumah, sendirian, hanya bersama kucing.

Ibu masih tinggal di Pamulang, tinggal di rumah sepupu ibu bersama keluarganya. H-2 lebaran sepupu ibu ini pulang ke kampung istrinya di Cikarang. Ibu bilang kalau ibu juga akan pergi ke Citayam, ke rumah bicik Iya pada H-1 lebaran.

Ternyata pada H-1 lebaran, ibu memutuskan untuk tidak kemana-mana. Ibu tetap tinggal di Pamulang. Tidak ada orang yang tau kalau ibu sendirian di rumah, karena ibu memang tidak memberi tau siapapun. Ibu ingin sendiri saja, ingin merasakan sedihnya (merayakan) kepergian bulan Ramadan.

Sebenarnya ibu juga bingung sendiri. Ibu tidak terlalu sedih karena Ramadan sudah pergi, hanya saja ibu tidak suka ada perayaan lebaran. Sejujurnya, ibu tidak pernah menyukai perayaan apapun. Malah, ibu cenderung benci pada perayaan-perayaan. Ibu tidak suka kondangan, tidak suka ada 17 Agustusan, tidak suka pada acara kelulusan, tidak suka pada lebaran, tidak suka pada acara tahun baru, ya begitulah. Setiap kali bertemu momen perayaan, ibu merasa takut dan lelah. Yang ingin ibu lakukan hanyalah bersembunyi dan menghilang dari semua orang.

Dan pada malam lebaran kemarin, ibu berdoa supaya tidak ada yang mengingat ibu. Ibu berdoa supaya semua orang yang mengenal ibu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sehingga tidak ada yang tau kalau ibu hanya sendirian di rumah. Ibu ingin sendirian saja, dan ibu tidak mau dikasihani karena sendiri. Bagi ibu, kesendirian bukanlah sebuah masalah. Malah, dalam kesendirian lah ibu bisa bertemu dan berbicara pada diri ibu sendiri.

Singkat cerita, keesokan harinya pada hari lebaran, sepupu ibu yang lain menggedor pintu rumah sekitar jam 9 pagi. Dia bilang kenapa ibu sendiri di rumah, ibu bilang ibu mau bermuhasabah. Dia bilang, bicik Iya bilang ibu tidak ada di Citayam, dan bertanya. Ibu bilang, ibu akan peri ke Citayam nanti sehabis zuhur.

Dia bilang jangan sendirian, dan dia memaksa ibu datang ke rumahnya untuk makan ketupat. Ibu bilang, ibu sudah makan nasi. Dia bilang lagi, kalau sendirian itu tidak baik. Ibu bilang, ibu memanfaatkan waktu sendirian untuk muhasabah. Dia bilang, sendirian juga berarti antisosial.

Ibu terkejut. Sampai juga kata itu ke telinga ibu. Lalu ibu merenung dan bertanya, apa benar ibu ini antisosial? Selama ini ibu memang tidak terlalu suka bertemu banyak orang. Dalam pikiran ibu, bertemu banyak orang itu berarti banyak yang harus dikerjakan, banyak yang harus dilakukan, banyak urusan yang harus dibantu. Itu semua berarti cape, itu semua membuat ibu lelah.

Mungkin pikiran ini terbentuk karena sejak kecil itulah yang ibu hadapi. Ketika ada perayaan seperti lebaran atau pernikahan saudara, banyak sekali yang harus dikerjakan. Mungkin karena ibu kelelahan dan tidak menikmati acaranya, ibu jadi berkesimpulan bahwa perayaan itu menyebalkan dan melelahkan. Bukan berarti ibu antisosial kan? Bukankah antisosial itu penyakit penyimpanan perilaku? Ah, tidak mungkin ibu ini antisosial, ibu bisa bermasyarakat dengan baik kok. Ibu hanya tidak menyukai perayaan.

Anakku, sebenarnya ibu juga belum terlalu mengerti tentang diri ibu sendiri, ibu terus belajar. Sayangnya, saat ini ibu belum bisa mempercayai siapapun untuk membantu ibu belajar secara langsung. Ibu takut meminta, takut merepotkan orang lain. Makanya ibu lambat sekali belajarnya.

Anakku, seandainya saat ini kalian mengalami kesulitan seperti ibu, tolong berceritalah pada ibu. Katakan apa yang tidak kalian sukai, katakanlah apa yang membuat kalian tidak nyaman, ibu akan berusaha mengerti. Ibu ingin kalian selalu merasa lapang, dan ibu ingin kalian bisa belajar dengan baik.

Anakku, sampai disini dulu cerita ibu. Ibu bersyukur bisa menuliskan cerita ini. Kalaupun ternyata kalian tidak membacanya, cerita ini akan menjadi milik ibu sendiri. Ibu akan membacanya lagi di masa tua ibu. Dan ibu yakin, ibu akan lebih bersyukur karena ibu bisa belajar dalam fase hidup ibu saat ini.


Komentar