Sekilas saya tentu setuju dengan sang matahari. Saya juga merasakan bahwa cinta itu hanyalah tentang memberi. Cinta tetaplah cinta walau tak pernah dibalas, tetap cinta bahkan walau tanpa diketahui orang yang kita cintai.
Namun saya sadar bahwa saya bukanlah matahari. Saya masih ingin cinta saya dibalas, atau setidaknya dihargai. Ternyata saya belum bisa memberikan cinta yang begitu bulat sempurna seperti yang dilakukan matahari.
Saya jadi teringat akan sebuah lagu anak-anak yang bercerita tentang kasih seorang ibu. Saya lalu bertanya dalam hati, apa benar kasih ibu itu tak terhingga sepanjang masa? hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia?
Andai apa yang dikatakan lagu itu benar, bahwa sayang ibu kepada anaknya itu seperti cinta matahari kepada bumi, lalu bagaimana sayangnya Allah kepada kita? Bukankah kasih sayang-Nya itu seluas langit dan bumi?

Komentar
Posting Komentar