Halo lagi, selamat datang penduduk bumi! Kali ini gue mau cerita tentang Ingonan. Dalam bahasa asal gue, Ingonan itu berarti peliharaan. Pet. Kadang peliharaan berperan besar dalam penciptakan suasan hati gue. Beberapa hari lalu gue galau, (ceilah...) nah, pas galau biasanya gue cerita sama Topi, tapi sekarang Topi sudah mati, mati keracunan. Sekarang gue mau cerita tentang peliharaan yang pernah gue punya. Yaudah, langsung aja, begini ceritanya….
Waktu gue kecil, kami memelihara anjing untuk menjaga rumah. Anjing ini kami lepas liarkan, tempat tidurnya dibawah rumah panggung. Satu hari, anjing kami beranak, anaknya ada 3 ekor, satu mati, satu diminta orang, satu lagi jadi peliharan kesayangan gue. Waktu itu gue berumur kira-kira empat tahun. Anjing kecil itu gue kasi nama Cik Lik. Cik Lik sangat setia, lucu, dan menggemaskan. Dia selalu mengikuti kemanapun gue pergi, mulai dari turun tangga sampai pulang lagi.
Gue dan Cik Lik sering main kejar-kejaran, kadang gue dikejar Cik Lik, kadang Cik Lik yang gue kejar.Waktu itu gue merasa kami sangat dekat, seperti ada ikatan batin antara gue dan Cik Lik. Biarpun gue sangat menyayangi Cik Lik, gue tetep gak pernah sekalipun menyentuhnya, gue selalu memegang teguh pesen Emak gue kalo anjing itu najis. Jadilah gue punya sebilah kayu seukuran gagang sapu yang selalu gue pake buat mengajak Cik Lik bermain.
Gue pukul-pukulkan (tidak dengan kencang) kayu itu ke bokong Cik Lik, lalu gue lari. Cik Lik mulai mengejar, kami berlomba balap lari, gue berlari sekencang mungkin, jika Cik Lik berhasil membalap, otomatis gue yang jadi mengejar Cik Lik. Terus, kalo gue sudah kehabisan napas, gue akan berhenti dan menyodorkan kayu itu. Selalu Cik Lik menggigitnya dengan kencang, dan menariknya juga dengan kencang, lalu Cik Lik berlari dengan gue yang tunggang langgang menurutinya sambil berteriak-teriak kegirangan. “Anjeng norot kato.. Anjeng norot kato..” sambil tertawa dan berkeringat jadi. Ah.. menyenangkan sekali mengenangnya.
Gue lupa nagaimana dulu bisa sampai terpisah dengan Cik Lik. Seingat gue, dulu saat berumur enam gue tinggal di rumah nenek untuk sekolah. Cuma setiap sabtu sore gue pulang ke rumah orang tua, minggu sore gue ke rumah nenek lagi. Gue lupa kenangan-kenangan lainnya bersama Cik Lik. Citra Cik Lik yang sekarang masih melekat dalam memori gue adalah, dia anjing berwarna biru muda.
Oke, sampai disini dulu cerita “Tentang Dia” kali ini. Sampai ketemu di cerita-cerita selanjutnya...

Komentar
Posting Komentar