Halo, selamat datang lagi semunaya! Kali ini gue mau cerita tentang Ingonan (lagi). Langsung aja, check this out!
Eng Nyok adalah kucing gagah, berbadan besar dan gempal, buas, raja kucing di kampung kami. Tapi dibalik semua itu, dia sangat lembut dan penurut kalo sudah ketemu gue. Dia suka bermanja-manja, kalo lagi santai bareng dia mau tidur diatas perut gue, gue seneng saat dia mulai memijit-mijit perut gue.
Sebagai kucing raja kampong, Eng Nyok tentu sangat sering berantem dengan kucing jantan lainnya, entah untuk berebut betina, berebut makanan, ataupun berebut wilayah. Pernah juga Eng Nyok berduel dengan ular seukuran ikat pinggang, dan menang. Dia benar-benar raja kampong, semua tau itu. Dia sangat terkenal, bahkan orang-orang lebih banyak yang mengenal dia daripada mengenal gue. Termasuk juga ibu-ibu yang geram dengan tingkah Eng Nyok yang suka mencuri ikan yang akan dimasak.
Eng Nyok suka memangsa anak bebek milik Nyai (nenek gue). Karenanya, ia pernah dibuang ke Kalangan Ahad (pasar), Ayek Lintang (Sungai), Kalangan Rebu, dan beberapa tempat lagi (gue lupa), dan ajaibnya dia selalu berhasil menemukan jalan pulang. Kami menyebutnya “Kucing Bertuah” karena ini. Tapi karena perilaku suka mencuri Eng Nyok yang tak kunjung berubah, Nyai juga tak pernah putus asa untuk mencoba membuangnya. Pada akhirnya dia dibawa ke Pendopo (Pasar di kecamatan sebelah). Gue selalu setia menunggunya, karena tetap saja Eng Nyok adalah kucing kebanggaan gue. Gue nunggu kedatangan dia setiap hari sampai hampir dua minggu.
Gue waktu itu mulai khawatir, gue takut kehilangan Eng Nyok. Waktu itu ada yang bilang kalo dalam tempo tiga bulan kucing belum bisa menemukan rumahnya, berati dia gak akan pernah pulang. Ternyata bener, Eng Nyok tak pernah pulang setelah itu. Tentu saja gue sedih, gue kehilangan Eng Nyok, sang raja kampong Simpang Tigo yang paling gue sayang.
Masih tajam di memori gue, waktu Eng Nyok tak pulang lagi itu gue duduk di bangku kelas empat SD. Dan kabarnya Eng Nyok sudah berumur enam tahun. Empat tahun lebih muda dari gue saat itu. Gue bermain bersama Eng Nyok kurang lebih empat tahun. Gue sangat menyayanginya, gue tau dia itu nakal, suka mencuri ikan dan suka mencuri anak bebek, Tapi tetap saja, Eng Nyok adalah kucing gue, yang belang tiga, gagah, dan suka bermanja.
Oke, sampai disini dulu cerita “Tentang Dia” kali ini. Sampai ketemu di cerita-cerita selanjutnya...

Komentar
Posting Komentar