Haloo lagi internet, selamat dateng kembali di blog-blogan ala-ala ini... Pada tulisan kali ini saya akan mulai menceritakan pengalaman subjektif saya selama magang di Menara Pejompongan. Oke, langsung saja ini dia episode 1, Karma!
jeng jeng jeng....
Dulu waktu masih sekolah tingkat SMA, saya pernah bersumpah nggak akan pernah mau kuliah di fakultas ekonomi. Alasannya karena waktu itu saya baru selesai membaca sebuah buku berjudul Satanic Finance, dan saya berasumsi bahwa orang-orang yang berkecimpung di dunia perekonomian adalah orang-orang yang punya tiket masuk eksklusif jalur cepat menuju neraka. Jika benar masuk neraka, mereka ini adalah penghuni neraka yang paling dalam dan paling sengsara.
Karma nomer 1!
Nyatanya perjalanan kaki saya saat ini sudah tinggal beberapa langkah lagi menuju sarjana ekonomi. 4 tahun sudah saya berenang-renang di kolam ekonomi dan kewirausahaan. Saya mengambil studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan Manajemen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Ya... ternyata saya harus menemui takdir saya di dunia ekonomi. Semoga saja tiket jalur cepat ke nerakanya nggak pernah jadi milik saya, aamiin.
Dulu waktu masih kuliah semester-semester awal, saya pernah bersumpah tidak akan pernah mau bekerja di perusahaan-perusahaan besar di sekitar Central Business District Jakarta. Alasannya karena saya ingin memegang teguh idealisme untuk menjadi seorang wirausahawan. Saya enggan membudak kepada perusahaan-perusahaan besar, saya ingin ikut berkontribusi membangkitkan perekonomian rakyat berbasis hukum syariah. Saya ingin membangun bisnis saya sendiri.
Karma nomer 2!
Entah bagaima dulu ceritanya dimulai, saat ini perjalanan kaki saya tinggal beberapa hari lagi untuk menyelesaikan program magang di perusahaan bank berlebel BUMN. Saat ini saya sedang aktif magang di Bank Negara Indonesia (BNI) yang tidak lain adalah perusahaan besar dan berkantor di CBD Jakarta.
Walaupun hanya program magang, tetap saja serapah yang dulu sempat terlontar dari mulut saya kini berbuah karma. Saya pikir, bagaimana seandainya sekarang saya berkata tidak akan pernah mau menjadi pengusaha dan berkontribusi dalam kebangkitan perekonomian Islam? Hmm... bisa jadi beberapa tahun kedepan langkah kacil saya di dunia kewirausahaan saat ini akan berkembang, berbuah, dan beranak-pinak. Hahaha.. Who knows?
Oke internet, sampai disini dulu cerita saya kali ini. Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya... Bye..
![]() |
| Pemandangan dari lantai 28 Menara Pejompongan |

Komentar
Posting Komentar