Langsung ke konten utama

Hari-hari Panjang Yang (tidak) Sia-sia

Haloo lagi internet..
Hari ini sudah tanggal 16 Juli, dan hati saya begitu gembira, ingin rasanya menari di udara, hehe.. Dari tanggal 16 ini saya bisa menghitung hari-hari terakhir magang di Menara Pejompongan dengan jari tangan, woohoo!

Saya tidak sabar meninggalkan zombie land ini dan mendapatkan kembali hidup saya dalam hari-hari yang random dan penuh kejutan. Saya tidak sabar untuk mengakhiri bekerja di gedung perkantoran dengan 9 to 5 ini, saya begitu excited ingin menemui diri saya yang tak usah berdesak-desakan lagi di KRL setiap pagi dan sore.

Saya super sangat amat absolutely completely senang sekali! Maaf ya pemirsa, kadang-kadang saya memang lebay. :)
Bagaimana tidak? Semenjak magang disana, saya benar-benar melakukan hal-hal yang membuat diri ini tidak bertumbuh. Melakukan repetisi pekerjaan yang exactly sama setiap hari. Kalo mau sombong nih ya, sambil merem juga selesai itu kerjaan. Ditambah lagi disana tidak ada wi-fi, internet seluler kembang kempis memancing emosi, semua itu membuat saya sangat tidak betah.  

Dulu saat hari pertama magang disana saya mempunyai ekspektasi begitu besar. Saya kira magang di BNI yang notabene bank BUMN, apalagi di divisi bisnis kartu, akan membuat saya banyak sekali belajar sesuatu yang baru. Nyatanya sangat berbeda, tak ada hal baru yang saya pelajari kecuali cara mengoperasikan mesin fotokopi.

Mungkin saya saja yang kurang beruntung karena ditempatkan di bagian ini, atau mungkin memang begitu cara perusahaan-perusahaan besar menempatkan mahasiswa magang? Ah, 5 bulan hidup saya sudah sia-sia!

Tapi tunggu dulu, tak ada urusan yang benar-benar sia-sia di dunia ini. Secara teknis, memang tak ada hal baru yang saya pelajari. Namun secara tidak langsung, banyak sekali momen-momen yang membuat saya belajar. Salah satunya adalah mengenai betapa berat dan mahalnya menjalankan sebuah komitmen. 

Sejak minggu kedua, saya sudah terpikir untuk menyerah dan berhenti magang disana. Commuting setiap hari dari Pamulang ke Benhil sangatlah menyebalkan, 2 jam dalam sehari hanya dihabiskan di jalan. Udara Jakarta yang tak bersahabat membuat jerawat bermunculan. Makanannya mahal-mahal, ongkosnya juga mahal.

Saya tak terpikir, bagaimana bisa para karyawan disini bisa bertahan menghadapi itu semua bertahun-tahun dengan bayaran yang tak sampai 2 digit? Sesulit itukah mencari nafkah di dunia ini?

Oke, untuk hari ini cukup segini dulu. Terima kasih, sampai jumpa di tulisan-tulisan berikutnya.


Suatu pagi di stasiun Sudimara

Komentar