Sepertiga bulan Juni tahun ini sudah terlewati, tapi sayang diri ini masih saja takut melangkah, masih saja belum kemana-mana. Saya punya rencana besar untuk direalisasikan, namun entahlah.. rasanya sangat sulit untuk melaksanakannya. Mungkin karena saya punya standar yang sangat tinggi dalam mengerjakan segala hal, perfeksionis kalo kata orang.
Kalo diingat-ingat, sepertinya kelakuan ini sudah saya kerjakan sejak, mm.. mungkin dari kecil. Paling jauh yang bisa saya ingat adalah dulu saat kelas 3 SD. Ceritanya, saat itu saya dan teman sekelas disuruh menyalin/mencatat isi buku ke dalam buku tulis. Kami sekelas baru pertama kali disuruh menulis menggunakan pulpen, karena saat kelas 1 dan 2 kami menulis pakai pensil.
Guru di kelas 3 bilang kalau menulis menggunakan pulpen harus hati-hati karena jika salah tulis kami tidak bisa menghapusnya seperti saat menggunakan pensil. Beliau mungkin sangat menghargai kerapihan, ..ya mungkin, saya tidak tau, tapi saya ingat waktu itu tulisan tanpa tipe-x akan berbeda nilainya dengan tulisan yang banyak tipe-xnya. Dari perkataan beliau itu saya waktu kecil berusaha menyalin tulisan dari buku ke buku tulis tanpa kesalahan satu kata bahkan satu huruf pun.
Saya ingat waktu itu saya sudah menulis sampai beberapa baris, lalu saya salah tulis di kata selanjutnya. Tidak mau nilai dikurangi, saya merobek kertas yang sudah saya tulisi lalu menulis ulang di kertas sebelahnya. Saat melakukan kesalahan lagi, saya robek lagi. Salah lagi, robek lagi, ulangi lagi, sampai benar-benar tertulis tanpa kesalahan satu huruf pun!
Saya lelah waktu itu, ya memang lelah karena saya menulis jauh lebih banyak dari yang seharusnya. Mungkin sampai 4 atau 5 kali lebih banyak. Tapi lelah itu hilang ketika ibu guru memuji tulisan saya yang tanpa tipe-x, tanpa kesalahan satu kata pun. Saya merasa begitu puas dan senang waktu itu.
Kelakuan itu berlajut sampai ke tahun-tahun berikutnya. Saya tidak mau ada tipe-x di buku catatan saya. Bahkan tidak jarang saya merobek kertas catatan saat sedang menulis hanya karena garis tepi kanan tulisan tidak sejajar dengan tulisan di atasnya. Saya gatal, geli, dan marah melihatnya, saya tidak tahan. Jadi saya sobek dan tulis ulang.
Tidak hanya menulis di kertas, saya terobsesi dengan kesempurnaan di banyak hal lain. Misalnya melipat pakaian, harus saya lakukan dengan rapi dan simetris. Menyapu lantai, harus sampai benar-benar bersih sampai ke sudut-sudut ruangan. Mengepel lantai, akan saya lakukan berulang-ulang sampai saya yakin kalau lantai itu sudah bersih.
Mungkin kebiasaan-kebiasaan inilah yang membentuk karakter standar tinggi yang sampai sekarang masih melekat. Saya tidak yakin apakah ini baik atau buruk. Boleh dibilang baik karena semua hal hebat tentu punya standar yang tinggi.
Bisa juga dibilang buruk karena banyak hal yang sengaja saya lewatkan karena saya tidak mau melakukan sesuatu dengan asal-asalan, tidak mau mencoba sedikit-sedikit. Saya tidak mau bersuara kalau belum mengerti betul, tidak mau memperlihatkan kepada orang kalau belum sempurna. Saya tidak mau terlihat bodoh, padahal sebenarnya tidak ada yang perduli.
Saya harap tulisan ini akan menjadi obat. Obat untuk menahan standar tinggi yang merepotkan ini. Saya sadar kalau di posisi saat ini, standar tinggi adalah penghalang untuk merealisasikan tujuan besar saya. Saya hanya harus mulai saja pelan-pelan dan berproses sambil berjalan.
Wahai diriku, standar tinggi itu bagus, tapi tidak sekarang. Tak mengapa kita mulai dengan apa yang ada, kita mulai saja..
![]() |
| suatu petang di Pamulang |

Komentar
Posting Komentar