Langsung ke konten utama

Ujian Tekad


Di salah satu buku karyanya, Paulo Coelho bilang kalau kehidupan punya dua cara untuk menguji tekad kita. Nomor 1, dengan tidak terjadi apa-apa. Atau nomor 2, dengan membuat semuanya terjadi berbarengan.

Saya teringat sebuah kisah mitos tentang kodok rebus yang pernah saya tonton di channel ted-ed. Ceritanya begini, suatu hari ada dua ekor kodok yang lagi asik ngobrol di pinggir kali. Kemudian dua kodok tersebut diculik, mereka dibawa ke dapur oleh seorang koki.

Kodok pertama dimasukkan ke dalam panci yang berisi air mendidih, seketika kodok itu langsung melompat keluar dari panci, lalu melarikan diri dari dapur sang koki.

Di sisi lain, sang koki mengisi ulang pancinya dengan air dingin dan memasukkan kodok kedua kesana. Panci tersebut ditaruh di atas kompor dengan nyala api yang sangat-sangat kecil. Sang koki menaikkan nyala api sedikit demi sedikit, sangat sedikit demi sedikit. Kodok kedua tidak menyadari kalau suhu air di dalam panci semakin panas, sampai ketika ia akan menyadarinya, dia sudah mati terebus.

Sebenarnya cerita ini adalah mitos, kodok akan menyadari kalau suhu air semakin meningkat lalu segera melompat keluar dari panci sedini mungkin.

Kurang lebih begitulah cerita hidup yang sedang saya lalui di hari-hari ini. Saya adalah kodok kedua, dengan kondisi hidup serba "baik-baik saja". Ya, (mungkin) bisa dibilang semua serba baik-baik, saya punya tempat untuk tinggal, hubungan saya dengan keluarga baik, lingkungan saya juga baik.

Tapi saya sadar kondisi yang baik-baik ini adalah ujian. Kondisi tenang ini menipu. Saya yakin saya mendapat ujian kehidupan yang nomor 1. Kehidupan memberikan ujian pada saya dengan cara tidak memberikan ujian apa-apa.

Ujian saya ternyata berbeda dengan cerita orang-orang hebat yang banyak saya dengar. Kebanyakan cerita mereka adalah cerita ujian nomor 2, yang ditimpa kemalangan ini dan itu, menjalani ujian ini dan itu, melalui kehidupan yang keras dan penuh perjuangan yang menyakitkan, sebelum pada akhirnya mereka berhasil 'melompat' dan menjadi seperti sekarang, yang sering dibilang 'orang sukses'.

Saya juga, saya harus keluar dari kenyamanan ini, saya tidak boleh terus menerus menikmati kenyamanan yang meracuni ini. Saya harus 'melompat' sebelum semuanya terlambat. Saya harus membuat sesuatu, melakukan sesuatu. Saya ingin memiliki tekad yang teruji, saya ingin menjadikan hidup saya lebih berarti dan menebar banyak manfaat. Sekarang waktunya bagi saya untuk melompat.

Oke, bagi kamu hai para pembaca, ingat, kehidupan punya dua cara untuk menguji tekad dan kesungguhan kita. Pertama dengan tidak terjadi apa-apa. Atau kedua, dengan membuat semuanya terjadi berbarengan.

Komentar