Langsung ke konten utama

Cerita KKN Bagian 1: Saya dan KKN yang Menyebalkan

Bagi seorang introvert seperti saya, keluar dan bertemu banyak orang adalah hal yang selalu dihindari. Kami cukup nyaman dan selalu bahagia bersama keheningan dan buku-buku yang bagus. Saya sangat suka membaca, apa saja, kecuali buku-buku akademik.

Sebagai seorang penyendiri yang mandiri, saya tentu tidak mempunyai banyak teman. Banyak orang asing menganggap saya sebagai seorang gadis yang sangat tidak ramah. Saya bertaruh, mereka belum tahu saja diri saya yang sebenarnya. Hanya sedikit orang saja yang cukup tangguh dan beruntung bisa masuk ke dalam kehidupan saya.

Mendapat informasi bahwa semua mahasiswa angkatan saya harus melaksanakan KKN membuat saya sedikit merinding. Bagi saya tak masalah mau pergi sejauh jarak langit atau sedekat jarak langit-langit, saya juga selalu suka saat pergi dan memjelajah tempat baru, tapi KKN bukanlah momen dan tempat yang saya inginkan. Bertemu dan hidup satu bulan bersama orang-orang asing yang tak saya kenal adalah mimpi buruk yang harus dijalani.

Dalam hati saya bergumam, apa yang harus saya lakukan?
Berbicara soal kompetensi, saya termasuk orang yang sepertinya tak banyak memiliki kompetensi untuk diterapkan saat KKN. Oh Tuhan, yang benar saja? Saya yang bahkan bertemu gubernur saja diam dan malas berbasa-basi, tiba-tiba harus banyak bergaul dengan orang-orang asing dan harus terjun mengabdi dan bersosialisasi bersama masyarakat?

Ini terdengar seperti saya yang harus berpura-pura dan tersenyum terhadap hal-hal yang tidak saya sukai. Saya sangat tidak pandai dan tidak suka bertemu banyak orang. Walaupun saya tidak suka, KKN pasti tetap berjalan dan saya pasti tetap akan berada di dalamnya.

Singkat cerita, tibalah saatnya KKN datang menyapa. Waktu itu bulan April tanggal 10 tepatnya, PPM UIN Jakarta mengumumkan pembagian kelompok dan tempat KKN yang akan didatangi.

Seperti yang saya perkirakan sebelumnya, tak ada seorangpun yang saya kenal di kelompok ini. Semua nama anggotanya terdengar asing dan membuat saya berpikir panjang tentang bagaimana saya bisa menyesuaikan diri dengan mereka semua?

Belum berdamai perihal anggota kelompok, saya juga langsung dikejutkan dengan desa tempat KKN. Desa Karya Mekar, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, sebuah tempat yang sebenarnya tak jauh dari ibukota akan menjadi tempat tinggal saya kurang lebih sebulan nantinya.

Setelah sekali mendatangi desa itu untuk survei, saya semakin mengutuk KKN yang tak bisa saya lari darinya ini. Bagaimana mungkin saya akan hidup disana? Disana orang-orang berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti, disana mereka mandi di tempat terbuka, disana tidak ada jaringan internet seperti yang saya butuhkan, dan disana serba tak biasa dengan disini.

KKN memang menyebalkan, namun pada akhirnya tetap saja saya mampu menemukan diri saya yang menerima dan selalu menghadapi apapun yang datang. Saya melakukan persiapan dan berusaha untuk dapat beradaptasi dan membawa diri di manapun saya berada, bersama siapa pun saya tinggal, dan seberapa lama waktu pun saya harus jalani.

KKN memang sangat menyebalkan, namun kali ini mungkin saja akan berubah menjadi menyenangkan. Saya pernah mendegar cerita dari senior yang katanya sangat bersyukur pernah mengikuti program KKN ini. Mungkin yang dia katakan ada benarnya juga, yang harus saya lakukan hanyalah bersiap-siap membuka mata dan hati untuk melihat cerita-cerita indah yang mungkin saja terjadi.

to be continued...

Identity card anggota KKN

Komentar