Langsung ke konten utama

Cerita KKN Bagian 3: Tentang Nino dan Nandan

Pertama kali datang ke Desa Karya Mekar yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa bertahan disini selama satu bulan. Saya tumbuh dalam asuhan kehidupan yang serba individual, sedikit asing bagi saya untuk bercengkrama pada tetangga, pada anak-anak yang lewat, pada pengurus wilayah setempat, maupun kepada warga-warga desa yang sebenarnya sangat ramah.

Selain memang pembawaan saya yang cenderung diam, bersosialisasi disini juga terhalang bahasa. Warga setempat memakai bahasa Sunda yang saya tidak mengerti dan saat saya mengajak mereka berbincang memakai bahasa Indonesia pun mereka juga tidak terlalu mengerti.

Karya Mekar adalah sebuah desa yang warganya nyaman tinggal disana. Desa dengan penduduk yang cukup banyak. Lalu di antara ribuan warga yang ada di desa itu, yang paling saya ingat adalah Nino dan Nandan.

Nino dan Nandan adalah dua bocah kelas empat SDN Selawangi 02 yang belum bisa membaca. Ada hal menarik yang saya dapat dari pengamatan saya terhadap mereka. Mereka tidak boleh disalahkan kaarena belum bisa membaca. Mereka itu sebenarnya spesial, mereka berbakat. Tapi sayang orang-orang dewasa di sekeliling mereka tidak menyadarinya.

Nino atau yang nama sebenarnya adalah Ilyas, belum bisa membaca karena dia sulit mengenali huruf-huruf abjad. Ada satu hal yang saya tidak mengerti yang membuat dia melihat huruf-huruf yang tertulis dengan cara yang berbeda. Huruf berikut misalnya, Nino sulit sekali membedakan antara huruf (b), (d), (p), dan (q). Semuanya sama bagi Nino, dia kesulitan membedakan dan memberi identitas pada satu huruf tertentu.

Semua orang menganggap dia bodoh dan malas belajar, tapi sebenarnya kitalah yang bodoh. Kita tidak mampu memahami apa yang dipikirkan oleh anak sekecil itu untuk sekedar belajar membaca. Kita tidak mengerti bagaimana susahnya dia melakukan hal sesederhana menghafalkan sebuah huruf. 

Mungkin ada peristiwa yang membuat Nino tak nyaman saat awal-awal belajar membaca. Dia kehilangan motivasi dan mersikap tak acuh pada dirinya sendiri. Saya rasa yang kini Nino butuhkan hanyalah dukungan dan rasa percaya kita kepadanya bahwa dia pasti bisa melakukannya. Saya sangat senang bisa mengenal dia dan sedikit-sedikit membimbing dia untuk kembali belajar membaca.

Awal pertemuan saya dengan Nino, dia sama sekali belum bisa membaca bahkan tidak mengenal hurup alfabet secara lengkap. Nino hanya tau A, B, dan C. Mungkin ini sedikit ajaib, dengan semangatnya yang menyala-nyala, Nino kini sudah bisa mengenali semua huruf walau masih ada yang salah. Terakhir saya belajar bersamanya, Nino sudah bisa mengeja dan menbunyikan huruf, sedikit-sedikit juga sudah bisa mambaca kata-kata sederhana.

Nandan adalah teman Nino. Nandan memiliki bakat di bidang seni namun tidak disadari oleh orang dewasa di sekitarnya. Dia kurang suka bidang eksak seperti pelajaran di sekolah. Dia sangat suka menggambar terutama manggambar bentuk. Tangan kecilnya itu terlihat lincah sekali saat dia menggambarkan nama saya dengan jenis huruf ciptaannya sendiri.

Goresan dan arsiran yang Nandan buat sangat mencerminkan bahwa dia bisa saja besar di bidang ini. Nandan juga sangat suka menggambar desain kendaraan, terutama kendaraan berat dan truk besar. Nandan bercerita bahwa dia bisa menggambar semua kendaraan. Tapi sayang ayah Nandan selalu memarahinya saat ketahuan menggambar di buku tulis sekolah.

Ayahnya selalu tidak suka saat Nandan menggambar, apalagi Nandan belum bisa membaca. Ayahnya selalu menyudutkan Nandan untuk belajar membaca dan belajar membaca. Padahal ayahnya sendiri tidak bersedia mengajarinya. Saat kami bertemu Nandan, dia mulai punya semangat untuk belajar membaca. Lalu pada akhir pertemuan kelas membaca itu kami bisa sedikit bersyukur atas Nandan yang juga sudah bisa mengeja kata dan kalimat.

Sebenarnya saya masih sangat ingin bertemu mereka lagi, megajari mereka sampai fasih membaca, tapi apa daya perpisahan harus dihadapi. Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan mereka berdua. Mereka yang membuat saya sadar bagaimana pentingnya mengenali dan membimbing anak-anak dengan cara yang cocok untuk masing-masing individu. Setiap anak berbeda, setiap anak lahir dan membawa kelebihan, kekurangan, dan keunikan mereka masing-masing.

to be continue...

Dari kiri: Nino, saya, Nandan

Komentar