Langsung ke konten utama

Cerita KKN Bagian 2: Bertemu 18 Orang Asing

Delapan orang laki-laki dan sebelas orang perempuan tergabung dalam satu kelompok KKN nomor urut 106 bernama Bakti Semar. Bakti Semar adalah kelompok yang biasa-biasa saja. Orang-orangnya biasa saja, programnya biasa saja, tempatnya biasa saja, kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan biasa saja, cara-cara melakukan sesuatu juga biasa saja, tidak ada yang spesial dari sisi manapun.

Tapi benarkah mereka biasa-biasa saja?
Oh ayolah.. coba kita telisik lebih dalam. Mulai dari pertama kami bertemu, kesan pertama saya adalah.... biasa. Kami bertemu, berkenalan, berbasa-basi, membicarakan program, merencanakan program, rapat persiapan program, membicarakan dana, makan siang bersama, rapat lagi, mencari dana, rapat lagi, mencari dana lagi, sampai seterusnya seperti itu.

Memang semua kegiatan ini biasa-biasa saja, tak ada yang menarik untuk diceritakan. Tak ada konflik untuk diselesaikan, tak ada hal yang sangat lucu untuk ditertawakan, tak ada kisah sedih yang mampu meneteskan air mata, tak ada sumbu yang mampu membuat amarah menyala-nyala, dan tak ada kejadian yang sangat berharga untuk diingat. Tak ada memori khusus yang harus disiapkan untuk mengenang.

Baiklah, demi terselesaikannya tulisan mengenai kisah KKN ini, saya akan sedikit bercerita tentang teman-teman anggota kelompok KKN Bakti Semar. Cerita ini akan sangat jujur, brutal, apa adanya, dan mungkin menyakitkan. Bagi Anda yang tersebut namanya atau merasa disebut dalam cerita ini, ya.. saya mohon maaf saja. Bukan bermaksud sangat baik atau tidak baik, tapi ini murni apa yang saya ketahui dan saya rasakan saat hidup berdampingan bersama anggota KKN Bakti Semar selama satu bulan dalam satu rumah di Desa Karya Mekar. 

Ada satu orang anggota KKN Bakti Semar yang membuat saya merasa sangat beruntung bisa mengenalnya. Pada awal pertemuan saya tidak terlalu memperhatikannya karena memang dia tidak banyak bersuara. Sampai sekarang pun saya tidak terlalu mengenalnya dan tidak berusaha mengenalnya lebih dekat. Saya hanya kagum dengan kemampuannya bersosialisasi dan membawa diri. Dia mampu menyesuaikan diri saat di mana dan kepada siapa dia berhadapan. Dia menyadari betul apa kekurangan dan kelebihan yang ia punya sehingga bisa memaksimalkannya.

Selain itu ada pula seorang anggota KKN Bakti Semar yang punya selera musik mirip-mirip dengan selera musik saya. Dia seorang yang menyenangkan dan enak diajak bicara. Mungkin saja semua anggota KKN Bakti Semar menyukai dia karena dia ini memang berbakat sekali memecah kecanggungan di antara kami semua. 

Di samping ada yang menyenangkan, tentu ada saja kebalikannya. Di KKN Bakti Semar pun begitu, ada satu orang yang yang saya bingung sekali jika berhadapan dengan dia. Saya tidak tau apa yang sebaiknya saya perbuat atau katakan karena saya tidak mampu menyampaikan isi kepala saya dengan baik sehingga dia bisa menangkap dan mencerna informasinya.

Atau mungkin dia saja yang tidak cukup jam terbang untuk mengerti apa yang sebenarnya anak berumur 10 tahun pun pasti mengerti. Saya juga sedikit heran kepada orang seperti dia, tapi bagaimanapun dia tetaplah saudara saya. Semoga setelah ini dia akan berubah menjadi yang lebih baik.

Ada pula satu orang yang sangat menjengkelkan. Kalau pembaca mau tau, saya ini adalah tipe orang yang sangat susah dan jarang sekali merasa jengkel atau marah kepada orang. Saya cenderung mengabaikan dan tidak perduli dengan orang yang tidak suka kepada saya atau bahkan menyakiti saya.

Tapi satu orang ini telah mampu mengusik ketenangan saya. Dia mampu memancing amarah saya tiap kali dia memperlihatkan wajah dan mulutnya yang tidak santai itu mengoceh entah tentang apa. Saya sangat tidak suka mendengar suaranya apalagi memperhatikan ocehannya. Entah mengapa saya yakin sekali bahwa orang ini juga sangat tidak menyukai saya, bisa jadi dia merasakan jengkel yang lebih jadi atau bahkan benci kepada saya.

Semua orang memang bebas menafsirkan perasaan, termasuk dia. Saya sendiri sebenarnya tak ada masalah dengan dia, awalnya saya merasa baik-baik saja. Sampai pada bebarapa hari saat dia selalu memperlihatkan wajah masamnya saat saya sedang berbicara di dalam forum dan dia juga berbicara kasar dan memojokkan saya. Pada awalnya setau saya dia adalah seorang yang yang lemah lembut, ternyata yang lemah lembut pun bisa mengganas saat sudah tidak suka kepada orang lain.

Selain dari beberapa orang disebut diatas, saya merasa biasa saja kepada anggota KKN Bakti Semar yang lain. Mereka baik, ramah, menerima saya dengan baik, bersikap seperti biasa kebanyakan orang, mampu bekerja sama dengan baik, dan tak ada masalah atau hal yang penting untuk dikenang atau sekedar ditulis. Ini terdengar agak jahat, tapi mau bagaimana lagi? Memang seperti itu yang saya alami dan rasakan.

Ada satu malam yang membuat saya merasa benar-benar marah marah kepada kelompok KKN Bakti Semar. Saya lupa kapan kejadiannya, yang jelas malam itu kami rapat sampai kurang lebih jam 12 malam. Beberapa teman langsung masuk kamar untuk tidur saat selesai rapat, beberapa masih di ruang rapat sekedar main HP, beberapa lagi akan pergi ke masjid.

Beberapa orang yang pergi ke masjid ini tujuannya adalah untuk mencuci muka, menyikat gigi, kencing, dan berwudhu. Semua itu dilakukan karena di rumah inap kami tidak ada air, kami kekeringan. Saya ikut bersama beberapa orang yang pergi ke masjid ini.

Singkat cerita, saat sampai di masjid saya mendapat giliran antri yang terakhir. Sialnya adalah air di masjid habis tepat saat saya akan menggunakannya. Semua teman yang antri di depan saya tentu saja sudah selesai dengan urusan mereka. Lalu kami semua pulang meninggalkan masjid itu.

Ketika sampai di depan rumah inap, saya pikir kami akan lanjut ke masjid yang satu lagi untuk menemani saya menyelesaikan urusan saya. Ternyata semua orang dari beberapa orang yang pergi tadi masuk ke rumah, meninggalkan saya sendiri yang masih menenteng sikat gigi dan odol di depan rumah.

Saat itu saya belum berpikir macam-macam, lalu saya meminta tolong kepada teman yang lain intuk mengantar saya, mereka menolak. Saya minta tolong kepada yang lain lagi, dia juga menolak. Mendapat penolakan beberapa kali membuat saya mulai berpikir buruk. Ingin sekali rasanya mengutuk mereka yang tidak perduli dengan keadaan saya.

Saat itu sudah lewat tengah malam, desa sepi sekali, udara di sekitar juga terasa sangat dingin. Saya harus kencing dan menyikat gigi ke masjid dan tidak ada yang bersedia menemani saya. Saya terlalu takut jika harus pergi sendiri, dan saya juga tidak mungkin menahan kencing sampai besok pagi.

Saya sangat kesal, saya marah, dan saya ingin menangis. Pada akhirnya saya tetap pergi ke masjid. Ditemani seorang yang entah ikhlas entah terpaksa, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak. Dia menyelamatkan saya malam itu, menyelamatkan kelompok KKN Bakti Semar juga dari amarah saya yang siap meledak.

Namun bagaimanapun juga, di balik kesalnya saya, marahnya saya, menjengkelkannya saya, diamnya saya, berisiknya saya, pokoknya dibalik semua sikap dan tindak tanduk saya, dari lubuk hati yang paling dalam saya ingin berterima kasih kepada kalian, seluruh anggota KKN Bakti Semar.

Terima kasih telah menerima saya yang seperti ini adanya, terima kasih telah bersedia saya repotkan, terima kasih telah menerima usulan-usulan dan pemikiran saya, terima kasih Kang Abdii, terima kasih pak ketua Hisyam, terima kasih Surya, terima kasih Rino, terima kasih Zaenal, terima kasih Sudar, terima kasih Naufal, terima kasih Lutfi, terima kasih Laela, terima kasih Anita, terima kasih Dewi, terima kasih Aliyah, terima kasih Inaas, terima kasih Lee, terima kasih Vetty, terima kasih Jay, terima kasih Novi dan terima kasih Nidaul.

to be continued...

Kelompok KKN Bakti Semar dalam program seminar motivasi

Komentar