Hari-hari yang saya jalani di Karya Mekar rasanya biasa-biasa saja. Setiap hari bangun pagi, shalat subuh berjamaah, rapi-rapi, sarapan, menjalankan program, lalu shalat zuhur, menjalankan program lagi, rapat persiapan program lagi, sampai tidur lagi.
Selalu seperti itu setiap hari, pengulangan yang sebenarnya sangat membosankan. Tapi tak mengapa, setidak-tidaknya saya tak harus repot-repot banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk bertahan disini. Lagi pula disini saya bisa membaca buku sesuka hati saya, tak ada yang melarang dan tak ada yang mengganggu.
Namun sepertinya saya keliru, saya tidak sadar bahwa selama ini saya sedang dikelilingi orang-orang yang luar biasa. Saya tidak sadar bagaimana tetangga kami Emak telah mengajarkan saya cara menghargai pemberian. Saya tidak sadar bagaimana Ibu Oman sudah mengajarkan bagaimana sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Saya tidak sadar bagaimana staf desa telah mengajarkan bagaimana caranya bertata krama. Saya tidak sadar bagaimana anak-anak desa disini mngajarkan bagaimana kesabaran dan kepedulian.
Saya tidak sadar bagaimana kekeringan disini telah megajarkan saya caranya menghemat air, dan yang paling saya sesali adalah saya tidak sadar bagaimana teman-teman KKN Bakti Semar telah memperlihatkan cinta dan kasih sebagai sebuah keluarga baru.
Saya baru menyadari jika setiap hari di rumah kami selalu ada canda dan marah yang selalu bisa membuat kami semakin dekat. Selalu ada yang bernyanyi bersama menciptakan suasana yang riang dan nyaman, selalu ada momen-momen ketika makan bersama yang menggelikan, momen di mana kami semua kelelahan dan tertidur sampai pagi terang menjelang. Momen di mana ternyata kami selalu kompak saling membahu untuk menyelesaikan suatu program, momen di mana kami mengetahui hal jorok satu sama lain, dan bayak momen-momen indah lainnya.
Di sanalah saya mulai merasakan kedekatan bersama teman-teman KKN dan Desa Karya Mekar. Tapi sayang waktu itu sudah sangat terlambat bagi saya untuk menyadari segala hal berharga itu. Sudah terlambat bagi saya untuk ikut berperan aktif dalam jalinan benang kebahagiaan itu. Saya baru bisa melihat semua hal ini dua hari menjelang kepulangan kami ke rumah masing-masing.
Sebenarnya ingin sekali saya mengutuk diri, mengapa kemarin-kemarin saya begitu tidak perduli keadaan di sini? Saat ini, ketika saya sudah jatuh hati, semua harus berganti. Kami harus berpisah dengan Karya Mekar, Bakti Semar cukup sampai disini. Walaupun tetap ada, Bakti Semar tak mungkin lagi tetap sama. Saya "jatuh cinta" di waktu yang tidak tepat. Lalu pada akhirnya cinta ini gugur lagi tanpa ada kesempatan untuk berkembang.
![]() |
| Hutan pinus di sekitar Bogor |

Komentar
Posting Komentar