Langsung ke konten utama

Postingan

Masih Cerita Magang: Karma!

Haloo lagi internet, selamat dateng kembali di blog-blogan ala-ala ini... Pada tulisan kali ini saya akan mulai menceritakan pengalaman subjektif saya selama magang di Menara Pejompongan. Oke, langsung saja ini dia episode 1, Karma! jeng jeng jeng.... Dulu waktu masih sekolah tingkat SMA, saya pernah bersumpah nggak akan pernah mau kuliah di fakultas ekonomi. Alasannya karena waktu itu saya baru selesai membaca sebuah buku berjudul Satanic Finance , dan saya berasumsi bahwa orang-orang yang berkecimpung di dunia perekonomian adalah orang-orang yang punya tiket masuk eksklusif jalur cepat menuju neraka. Jika benar masuk neraka, mereka ini adalah penghuni neraka yang paling dalam dan paling sengsara. Karma nomer 1! Nyatanya perjalanan kaki saya saat ini sudah tinggal beberapa langkah lagi menuju sarjana ekonomi. 4 tahun sudah saya berenang-renang di kolam ekonomi dan kewirausahaan. Saya mengambil studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan Manajemen Universitas Islam Ne...

Hari-hari Panjang Yang (tidak) Sia-sia

Haloo lagi internet.. Hari ini sudah tanggal 16 Juli, dan hati saya begitu gembira, ingin rasanya menari di udara, hehe .. Dari tanggal 16 ini saya bisa menghitung hari-hari terakhir magang di Menara Pejompongan dengan jari tangan, woohoo! Saya tidak sabar meninggalkan zombie land ini dan mendapatkan kembali hidup saya dalam hari-hari yang random dan penuh kejutan. Saya tidak sabar untuk mengakhiri bekerja di gedung perkantoran dengan 9 to 5 ini , saya begitu excited ingin menemui diri saya yang tak usah berdesak-desakan lagi di KRL setiap pagi dan sore. Saya super sangat amat absolutely completely senang sekali! Maaf ya pemirsa, kadang-kadang saya memang lebay. :) Bagaimana tidak? Semenjak magang disana, saya benar-benar melakukan hal-hal yang membuat diri ini tidak bertumbuh. Melakukan repetisi pekerjaan yang exactly sama setiap hari. Kalo mau sombong nih ya, sambil merem juga selesai itu kerjaan. Ditambah lagi disana tidak ada wi-fi,  internet seluler kemba...

Beli Buku Bajakan (lagi)

Hallo lagi internet! Apa kabar? Semoga baik-baik saja ya.. semoga masih sehat dan tetap waras. Hmm.. sebenernya saya agak ragu untuk posting tulisan ini, karena saya masih merasa berdosa setiap kali melihat koleksi buku bajakan saya. Yap, buku bajakan! Hari ini pesanan buku bajakan saya telah sampai. Lama sekali rasanya saya menunggu kedatangannya dari Jogja. Empat hari lalu saya memutuskan untuk membeli buku bajakan (lagi). Semua ini gara-gara saya yang tidak tahan dengan godaan iklan berbagai market place yang selalu menayangkan buku ini dimanapun saya terhubung dengan internet. Beberapa waktu belakangan ini saya memang pernah masuk ke salah satu market place untuk melihat-lihat harga buku-buku yang ingin saya beli. Sial! Algoritma internet berjalan. Setelah kunjunjungan itu, handphone saya dipenuhi iklan buku dengan harga miring mendekati jatuh! Iklan itu muncul dimana-mana. Di instagram, di dalam aplikasi, di artikel-artikel online yang saya buka, di sana, di si...

Mojuk Yuk!

Haloo internet! Kali ini saya akan bercerita tentang mojuk,  alright, here we go ! Saya awali cerita kali ini dari pengalaman saya yang selalu gagal dalam berkompetisi. Kalo dinget-inget, saya ini satu kali pun nggak pernah menang dalam berkompetisi. Dulu saat masih SD saya ikut lomba makan kerupuk lalu kalah, ikut lomba lari juga kalah, lomba senam pramuka dan kalah, bertanding bola volley juga kalah, lomba cerdas cermat juga kalah, lomba main karet dengan teman pun saya kalah. Beranjak ke usia SMP, ikut lomba membuat tandu dan saya kalah lagi, lomba baris-berbaris juga kalah, lomba pidato juga kalah, lomba tari tradisional juga kalah, ikut olimpiade sains juga kalah, lomba kelas terbersih pun kelas saya kalah. Entah mengapa selalu begitu, padahal saya sudah berusaha. Lanjut ke usia SMA, saya ikut lomba pidato lagi lalu kalah lagi. Ikut lomba vocal grup juga kalah, ikut lomba 17an kalah. Lomba menulis essay kalah, menulis skenario film juga kalah. Lomba akuntansi j...

"Kenorakan" Saya Yang Lain

Hari ini saya pergi ke kampus yang berlokasi di Ciputat Tangerang Selatan. Saya mengendarai sepeda motor yang bensinnya ternyata sudah hampir kering. Namun saya tetap melanjutkan perjalanan. Setelah menyelesaikan urusan di kampus, saya beranjak pulang dan berencana mengisi bensin di SPBU terdekat. Biasanya saya mengisi bensin di SPBU sebelum flyover Ciputat, namun kali ini saya melewatkannya karena lupa. Selanjutnya saya singgah di SPBU di dekat Carrefour Ciputat. Ternyata pom bensin itu adalah pom bensin swalayan alias self services .  Saat pertama datang (setelah antri) kita akan bertemu dengan petugas di mesin kasir. Kita memesan jenis bensin yang ingin kita beli dan membayar disini. Lalu kita akan diberi struk berisi barcode. Struk ini kemudian harus kita masukkan ke tempat scanner yang ada di dispenser bahan bakar.  Setelah scan berhasil dan lampu merah diatas scanner berganti menjadi lampu hijau, kita bisa langsung megisikan bensin dengan nozzle. Ternyata n...

A Letter to Someone Out There

Hello Dear! This is me, on the end of this June. The day is fleeting, the months are blurring into year. Another week has come and gone away in Tangsel and Jakarta. I walk across them, and I wanna go home. I don't know what exactly home is, I just feel wanna go home. Maybe I sorrounded by a milion people, but I still feel all alone. I wanna come home, please take me home. Dear, I miss you, you know? I wrote some letters to you and would send them but I don't know your address. Even your city or who you are I dont know a bit.You are the biggest God's secret for me. Dear, I absolutely miss you tonight. I don't know why it's always come to me in random time. Are you out there send them? I'm glad if you do so. And it's ok for me now, we just miss each other without ever meeting or texting before. How cute?

Cerita KKN Bagian 4: Cinta yang Gugur Sebelum Berkembang

Hari-hari yang saya jalani di Karya Mekar rasanya biasa-biasa saja. Setiap hari bangun pagi, shalat subuh berjamaah, rapi-rapi, sarapan, menjalankan program, lalu shalat zuhur, menjalankan program lagi, rapat persiapan program lagi, sampai tidur lagi. Selalu seperti itu setiap hari, pengulangan yang sebenarnya sangat membosankan. Tapi tak mengapa, setidak-tidaknya saya tak harus repot-repot banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk bertahan disini. Lagi pula disini saya bisa membaca buku sesuka hati saya, tak ada yang melarang dan tak ada yang mengganggu. Namun sepertinya saya keliru, saya tidak sadar bahwa selama ini saya sedang dikelilingi orang-orang yang luar biasa. Saya tidak sadar bagaimana tetangga kami Emak telah mengajarkan saya cara menghargai pemberian. Saya tidak sadar bagaimana Ibu Oman sudah mengajarkan bagaimana sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Saya tidak sadar bagaimana staf desa telah mengajarkan bagaimana caranya bertata krama. Saya tidak sadar bagaim...

Cerita KKN Bagian 3: Tentang Nino dan Nandan

Pertama kali datang ke Desa Karya Mekar yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa bertahan disini selama satu bulan. Saya tumbuh dalam asuhan kehidupan yang serba individual, sedikit asing bagi saya untuk bercengkrama pada tetangga, pada anak-anak yang lewat, pada pengurus wilayah setempat, maupun kepada warga-warga desa yang sebenarnya sangat ramah. Selain memang pembawaan saya yang cenderung diam, bersosialisasi disini juga terhalang bahasa. Warga setempat memakai bahasa Sunda yang saya tidak mengerti dan saat saya mengajak mereka berbincang memakai bahasa Indonesia pun mereka juga tidak terlalu mengerti. Karya Mekar adalah sebuah desa yang warganya nyaman tinggal disana. Desa dengan penduduk yang cukup banyak. Lalu di antara ribuan warga yang ada di desa itu, yang paling saya ingat adalah Nino dan Nandan. Nino dan Nandan adalah dua bocah kelas empat SDN Selawangi 02 yang belum bisa membaca. Ada hal menarik yang saya dapat dari pengamatan saya terhadap mereka. Mereka...

Cerita KKN Bagian 2: Bertemu 18 Orang Asing

Delapan orang laki-laki dan sebelas orang perempuan tergabung dalam satu kelompok KKN nomor urut 106 bernama Bakti Semar. Bakti Semar adalah kelompok yang biasa-biasa saja. Orang-orangnya biasa saja, programnya biasa saja, tempatnya biasa saja, kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan biasa saja, cara-cara melakukan sesuatu juga biasa saja, tidak ada yang spesial dari sisi manapun. Tapi benarkah mereka biasa-biasa saja? Oh ayolah.. coba kita telisik lebih dalam. Mulai dari pertama kami bertemu, kesan pertama saya adalah.... biasa. Kami bertemu, berkenalan, berbasa-basi, membicarakan program, merencanakan program, rapat persiapan program, membicarakan dana, makan siang bersama, rapat lagi, mencari dana, rapat lagi, mencari dana lagi, sampai seterusnya seperti itu. Memang semua kegiatan ini biasa-biasa saja, tak ada yang menarik untuk diceritakan. Tak ada konflik untuk diselesaikan, tak ada hal yang sangat lucu untuk ditertawakan, tak ada kisah sedih yang mampu meneteskan air mata, ...

Cerita KKN Bagian 1: Saya dan KKN yang Menyebalkan

Bagi seorang introvert seperti saya, keluar dan bertemu banyak orang adalah hal yang selalu dihindari. Kami cukup nyaman dan selalu bahagia bersama keheningan dan buku-buku yang bagus. Saya sangat suka membaca, apa saja, kecuali buku-buku akademik. Sebagai seorang penyendiri yang mandiri, saya tentu tidak mempunyai banyak teman. Banyak orang asing menganggap saya sebagai seorang gadis yang sangat tidak ramah. Saya bertaruh, mereka belum tahu saja diri saya yang sebenarnya. Hanya sedikit orang saja yang cukup tangguh dan beruntung bisa masuk ke dalam kehidupan saya. Mendapat informasi bahwa semua mahasiswa angkatan saya harus melaksanakan KKN membuat saya sedikit merinding. Bagi saya tak masalah mau pergi sejauh jarak langit atau sedekat jarak langit-langit, saya juga selalu suka saat pergi dan memjelajah tempat baru, tapi KKN bukanlah momen dan tempat yang saya inginkan. Bertemu dan hidup satu bulan bersama orang-orang asing yang tak saya kenal adalah mimpi buruk yang harus di...

Girls Day Out: Walk in Jakarta

Dari kiri: Kaori, Saya, Nia Wellcome internet,.. Kali ini saya akan menuliskan laporan perjalanan ala-ala, hehe.. Bercerita tentang perjalanan kami (Kaori 12 tahun, keponakan saya dan Nia 18 tahun, sepupu Kaori) mengeksplor beberapa objek wisata di sekitar Jakarta Pusat. Perjalanan kali ini sebenarnya tidak terlalu direncanakan, alias dadakan untuk mengisi weekend . Perjalanan kami lakukan pada hari sabtu, 22 Juni 2019. Kebetulan pas hari ulang tahun kota Jakarta. Ada beberapa objek yang rencananya akan kami kunjungi, diantaranya adalah Musium Taman Prasasti, Musium Nasional, Perpustakaan Nasional, Monumen Nasional (Monas), dan Galleri Nasional. Berangkat dari rumah di daerah Pamulang sekitar jam 9 pagi via grabcar, kami sampai di stasiun Sudimara setelah setengah jam kemudian. Lalu menuju stasiun Tanah Abang via KRL Commuter Line . Kami kira kereta pada sabtu pagi akan sepi karena tak ada para pegawai yang bekerja, nyatanya tetap penuh sesak dan tentu saja kami berdiri...

Bersama-sama

Masih tentang Cinta, Mungkin saja kita pernah bertemu, pernah berpapasan wajah, atau bahkan saling mengenal nama saat ini. Namun kita tidak tau, karena kita belumlah kita. Kita masihlah saya atau kamu. Mungkin kita pernah duduk bersama-sama di kursi yang sama, meski kita duduk di waktunya masing-masing. Mungkin juga kita pernah bersama-sama menatap rembulan yang sama, meski kita menatap dari tempatnya masing-masing.  Kita menggantungkan nasib pada takdir,  seperti daun-daun gugur yang berpasrah pada angin. Terus saja menjalani hidup,  berharap dijatuhkan bersama-sama, di tempat dan waktu yang sama. Dan saya pun tidak mau berpikir banyak perihal dimana dan kapan hal itu akan terjadi. Saya kira kaki kita masih harus banyak melangkah, menjelajah sampai ke sudut-sudut dunia. Tangan kita juga masih harus banyak bekerja, menyelesaikan urusan kita masing-masing. Ego kita pun masih terus menyibukkan jiwa dan raga, untuk berdamai dengan masa lalu, menghidupkan har...

Tentang Cinta

Cinta adalah serangkaian pilihan. Pada dasarnya kita akan menyukai seseorang dari bentuk fisiknya, kemudian kita mulai mengenalnya lebih dalam. Selera humor, hobi, prinsip, logika, dan sebagainya. Dari berbagai hal tersebut kita akan mulai memilih mana yang sekiranya tepat untuk kita cintai, dan mana yang harus kita lupakan. Namun ada pula bagian saat kita harus menunggu. Kita tidak perlu repot-repot menuliskan cerita cinta ataupun mencoba menebak-nebak siapakah partner hidup untuk kita. Tuhan sudah menuliskannya jauh sebelum kita memikirkannya. Kita hanya perlu menunggu waktunya datang. Menunggu algoritma dari Tuhan tentang cerita cinta kita mulai berjalan. Dan selama waktu menunggu ini, there are literally a gazillion things to learn, there are thousand books to read, there are so many places to see. Just go live your life!!!

Telan Saja, Jangan Banyak Bicara

Haloo internet, haloo kamu, iya kamu... Kali ini saya akan menceritakan satu kesadaran lain yang baru saja tumbuh di dalam diri saya. Ini menyangkut keangkuhan dan keras kepala yang normal dimiliki para pemuda. Jadi begini ceritanya, saya kan masih magang di Menara Pejompongan. Sudah masuk bulan keempat. Pada awal-awal magang, saya merasa mereka "salah" memperlakukan saya. Apakah mereka tidak berpikir saat memberi saya tugas remeh-temeh yang sangat tidak penting. ya.. tugas-tugas seperti meng-entry data, membuat bagan, merapikan kolom exel, memfotokopi, membuka straples, dan lain-lain membuat saya merasa dilecehkan. Dalam hati saya bergumam "Ayolah, beri saya tugas yang berat sedikit, yang membuat otak saya berpikir. Yakali saya tugasnya cuma nysun-nyusun kertas berdasarkan abjad doang, c'mon .. anak SD juga bisa..." Memang benar, kadang kita merasa diri kita ini berharga. Kita merasa begini, yakali kita cuma ngerjain ini, nggak pantaslah, nggak level...

3 Keyakinan dalam Berkarya

Haloo lagi semuanya, kali ini saya mau berbagi mengenai prinsip dan keyakinan saya dalam menulis dan merawat blog random ala-ala ini. Jadi sebenernya, buat nulis secara konsisiten itu sangatlah berat kalo kita nggak punya keyakinan terhadap apa yang kita lakukan.  Meskipun isi blog ini hanyalah sampah-sampah yang berseliweran di kepala saya, ternyata untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan tidaklah mudah. Menterjemahkan apa yang kita pikirkan kedalam rangkaian kata-kata yang setidaknya bisa dimengerti pembaca dengan baik itu menjadi tantangan tersendiri.  Maka dari itu, saya meyakinkan diri untuk tetap menulis karena beberapa prinsip beriktu ini. Prinsip-prinsip ini saya kutip dari tulisannya bang Iqbal Hariadi di buku yang judulnya Bertunbuh. Pertama, saya menyakini bahwa karya sampah di awal memulai itu adalah hal biasa . Kita seringkali minder buat menekuni sesuatu atau dalam hal ini mem publish tulisan karena merasa tulisannya jelek, nggak berfaedah, nggak berb...