Langsung ke konten utama

Postingan

Rindu

Aku pernah membaca sebuah kalimat, bunyinya kira-kira seperti ini: "Di dunia ini, banyak orang yang kesepian bukan karena mereka tidak bisa menemukan pasangan, melainkan karena mereka tidak bisa menemukan diri mereka sendiri." Saat itu aku berpikir, bahwa aku tidak akan pernah merasa kesepian. Karena aku bersahabat baik dengan diriku sendiri. Rasanya aku akan sanggup-sanggup saja bila harus menjalani hidup di dunia ini tanpa seorang pasangan. Aku tak pernah mempermasalahkan status single ku. Aku enjoy saja dengan itu, karena aku memang belum siap menikah. Aku juga tidak mau berpacaran, karena aku tau, Allah melarang ku melakukannya. Namun malam ini, aku merasa sangat kesepian. Lelah rasanya karena masih hidup sendiri di dunia ini. Aku ingin sekali mengobrol dan menceritakan banyak hal pada seorang laki-laki, tapi aku tak tau dimana laki-laki itu berada. Dan (sebenarnya) aku juga tidak tau siapa laki-laki itu. Aku pernah menuliskan nama seorang laki-laki di dalam buku harian ...

Antisosial

Untuk anak-anakku (baian 3) Halo anak-anakku, ibu doakan semoga kalian sehat dan bahagia selalu ya. Semoga kalian selalu sabar dan giat mendidik diri kalian, semoga kalian juga bisa menyayangi diri kalian degan baik. Karena anak-anak ibu sangat pantas disayang, ibu juga sangat sayang pada kalian. Ibu mau bercerita sesuatu hari ini. Mengenai perilaku ibu yang bahkan sedikit mengejutkan ibu sendiri. Sekarang adalah semingu setelah lebaran tahun 2022. Lebaran ibu tahun ini memang sedikit berbeda. Selain ibu tidak ikut sholat ied, ibu juga menyendiri di rumah, sendirian, hanya bersama kucing. Ibu masih tinggal di Pamulang, tinggal di rumah sepupu ibu bersama keluarganya. H-2 lebaran sepupu ibu ini pulang ke kampung istrinya di Cikarang. Ibu bilang kalau ibu juga akan pergi ke Citayam, ke rumah bicik Iya pada H-1 lebaran. Ternyata pada H-1 lebaran, ibu memutuskan untuk tidak kemana-mana. Ibu tetap tinggal di Pamulang. Tidak ada orang yang tau kalau ibu sendirian di rumah, karena ibu memang ...

Donor

Minggu, 24 April 2022. Pertama kalinya aku merasakan donor darah saat puasa di bulan Ramadan. Hari ini memang sudah masuk tanggal donor rutinku, aku sempat ragu apakah akan mendonorkan darah sekarang atau nanti-nanti saja setelah Ramadan berakhir? Sebabnya jelas karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada tubuhku. Aku khawatir akan mual-muntah atau yang lebih parah adalah pingsan. Dua-duanya pasti membuatku harus membatalkan puasa. Namun, sejak bagun tidur pagi tadi, aku merasa sangat sehat dan punya keyakinan bahwa aku kuat dan bisa donor darah di bulan puasa. Akhirnya aku berangkat juga ke PMI Tangsel sekitar jam 11 siang. Setelah sampai PMI, aku langsung mengisi buku tamu dan mengisi formulir donor. Aku mengantri sekitar 10 menit untuk diperiksa tekanan darah dan kandungan hemoglobin darah. Keyakinanku ternyata benar. Hb darahku bagus dan tekanan darahku stabil. Aku diterima untuk mendonor. Tapi sebenarnya tadi petugas yang memeriksaku agak ragu. Karena aku sedan...

Untuk Anak-anakku (bagian 2)

Tidak sadar aku, ternyata satu tahun sudah berlalu sejak aku memposting sebuah tulisan yang berjudul Untuk Anak-anakku. Aku menulisnya tepat pertengahan Ramadan tahun lalu. Malam ini juga pertengahan Ramadan. Tanggal 15 tepatnya. Bulan pun menjadi purnama, bulat bersinar meski kurang cemerlang. Mari kita mulai lagi tulisan dengan tema ini. Terkhusus kepada anak-anakku, malam ini ibu memutuskan untuk kembali menyapa kalian. Semoga kalian cukup mengerti kenapa ibu melakukan ini. Anakku, tadi sore sehabis magrib, adik ibu yang bernama Veni bilang di grup WhatsApp keluarga kalau rambutnya banyak rontok. Sekarang dia sedang tinggal di asrama sekolahnya. Di SMAN Sumatera Selatan, salah satu SMA terbaik di Sumatera Selatan, dan dia dapat full beasiswa. Saat adik ibu mengatakan rambutnya banyak rontok, ibunya ibu (nenek kalian) langsung merespon dengan nada khawatir. Beliau langsung menyuruh Veni untuk memeriksakan diri ke klinik sekolah. Sepertinya beliau takut sekali terjadi sesuatu pada ana...

Hobi

Minggu lalu, untuk pertama kalinya aku memperkenalkan diri kepada orang baru dengan menyebutkan bahwa hobi ku adalah tidur. Selama ini aku selalu mengatakan bahwa hobi ku adalah membaca buku. Tapi ternyata itu tidak terlalu benar. Aku memang sering membaca buku, aku meluangkan minimal 1,5 jam perhari untuk membaca buku, aku memang sudah membaca lumayan banyak buku. Tapi ternyata aktivitas membaca ku bukanlah hobi. Aku memang sering membaca buku, tapi aku tidak terlalu menyenanginya. Bukankah hobi adalah sesuatu yang disenangi dan sering dilakukan? Sama seperti makan. Aku sering makan, setiap hari malah. Tapi aku tidak terlalu menyukai aktivitas makan. Aku makan hanya supaya tidak pusing dan tidak kelaparan. Aku makan supaya punya energi untuk beraktivitas. Tapi, kadang-kadang aku juga sangat menyukai aktivitas makan ketika aku bertemu makanan yang enak. Bagiku kini, membaca buku itu sama saja dengan makan. Aku membaca buku untuk memberi pencerahan pada pikiranku, agar aku tidak bodoh. ...

Keinginan

Tunas kecil yang menolak mati Dulu aku meminta sepucuk tunas kecil tanaman dari tetangga sebelah rumah. Tunas yang sudah punya tiga lembar daun. Tingginya tak lebih besar dari telapak tanganku. Ku tanam, kuberikan tanah terbaik yang kudapat, kuberi vas cantik yang dibuat sendiri, ku siram air secukupnya, ku taruh di dekat jendela, bahkan ku ajak dia berbicara dan ku bacakan buku-buku di dekat daun-daunnya. Dia tumbuh subur, sehat, dan bahagia. Daunnya berwarna halus dengan ukuran besar-besar, batangnya kokoh, cengkraman akarnya juga sangat kuat. Dia memancarkan aura kebahagiaan, aku pun jadi ikut bahagia ketika melihatnya. Ia terus bertumbuh, terus mengusung daun dan menjadi rimbun. Vas yang kecil pun tak bisa lagi menampungnya. Ku pindahkan ia ke vas yang lebih besar. Lalu ku pindahkan lagi ia ke tempat yang lebih besar. Ku taruh ia di ember yang sudah ku cat warna putih. Ia terus tumbuh, daunnya pun sudah hampir mencapai 30. Namun suatu waktu aku melakukan kesalahan. Ku taruh ia di ...

Konsisten

Pernah aku merenung dan berpikir. Tentang mengapa aku susah sekali untuk konsisten melakukan hal-hal baik. Godaannya banyak dan berat-berat, rintangannya ada-ada saja. Entah sebab diriku saja yang malas, atau memang setan selalu bekerja dengan performa luar biasa, nggak ada cape-capenya menggoda dan menjerumuskan manusia. Dan dari hasil perenungan itu, kurasa aku tidak bisa konsisten karena banyak sebab. Misalnya niatku yang kurang kuat, melakukan semua sendiri sehingga terasa berat, ataupun tidak melakukan evaluasi-evaluasi dalam perjalanan. Jadi aku menemukan cara-cara ini. Ku tulis agar bisa dibaca kembali ketika nanti aku membutuhkannya. Biasalah, meski saat ini aku sudah belajar, aku yakin masih akan membutuhkannya di masa yang akan datang.  Cara dan kiat biar bisa konsisten,   Temukan alasan kuat   untuk melakukan suatu hal. Niatnya harus benar, hal yan dilakukan itu harus cukup bernilai untuk diperjuangkan, harus cukup berarti untuk mengalahkan rasa malas...

Cantik

Kini aku semakin yakin, bahwa untuk menjadi pribadi yang disukai itu tidak harus punya kulit putih, tinggi semampai, hidung mancung, muka tirus, rambut lebat, kuku lentik, outfit berpuluh juta, dan sepaket tampilan fisik lainnya. Tampilan fisik memang penting, tapi itu bukan segalanya. Lagipula siapa sih yang mau dekat-dekat dengan orang yang jorok dan bau? Tampilan fisik sudah optimal nilainya jika kita tampil bersih, rapi, tidak bau, dan... emm... kurasa tiga itu saja sudah cukup. Dan tampilan fisik itu, namanya juga fisik, ya cuma bungkusnya saja. Yang penting kan isinya. Kalo isinya menyenangkan, dia nyaman pada dirinya sendiri, berwawasan luas, berpikiran terbuka, berhati baik, bertutur kata sopan dan menghidupkan, perduli dengan orang lain, suka pada kebaikan, seru, dan seabrek perilaku dan sifat positif lainnya, bagaimana bisa kita hanya memperdulikan fisiknya?

Jurnal

Sore tadi aku menonton rekaman webinar tentang menjurnal. Itu loh, kegiatan menuliskan sesuatu yang dipikirkan, yang dirasakan, atau direncanakan ke dalam sebuah buku. Ya, bisanya dulu kita menyebutnya buku harian atau diary . Kini penyebutannya sudah agak bergeser (sepertinya), menjadi journal . Dan kegiatannya disebut menjurnal atau journaling . Sebenarnya ada banyak banget referensi yang membahas tentang kegiatan journaling . Mulai dari sebuah buku yang berjudul The Bullet Journal Method  tulisan pak Ryder Carroll, sampai ke video-video yang membuat jurnal-jurnal cantik dengan berbagai tema dan warna menarik. Tapi sore ini aku menemukan referensi yang berbeda. Mereka membuat webinar tentang Jurnal Dalam Islam. Pengisinya adalah ustad Arif Rahman Lubis. Acara ini diselenggarakan oleh Teman Cerita x Madina Al Quran. Setelah menonton webinar ini, aku jadi ingat kembali kalau menjurnal itu bermanfaat untuk banyak hal. Mulai dari bisa menjaga keberkahan waktu, bisa menjaga keseh...

TPQ

Mimpi apa aku semalam? Tak ku sangka, jalan kehidupan membawaku kembali lagi ke TPQ, sebagai murid, bersama anak-anak! Memang, ilmu itu ada dimana saja dan ada pada siapa saja, hanya saja aku benar-benar tidak kepikiran kalau aku akan berada di salah satu TPQ anak-anak! Teringat dulu waktu aku pertama kali disuruh pergi mengaji oleh nenek. Saat itu umurku masih 5 tahun dan baru masuk SD. Sebenarnya dulu aku sudah memohon agar tidak disuruh mengaji, tapi nenekku itu, tak ada yang bisa menghalangi kehendak beliau. Aku ketakutan saat pertama kali datang di tempat belajar mengaji. Kabarnya, kyai yang mengajar di sana galak sekali. Beliau tidak segan memukul para muridnya dengan rotan jika nakal, atau datang terlambat, atau berisik, atau tidak belajar dengan baik, atau bla bla bla, pokoknya kyai itu terkenal galak. Aku menjadi murid terkecil waktu itu. Tapi aku tidak diperlakukan istimewa. Aku diperlakukan sama seperti murid-murid yang sudah lama belajar di sana. Aku sedikit kebingungan dan...

Monster Itu Bernama Pesimis

Minggu ini aku membaca sebuah buku tulisan pak Marc Reklau. Sejauh ini, satu topik yang menarik adalah tentang monster penghambat yang ada di dalam diri kita. Katanya setiap orang punya monster penghambat masing-masing. Dan bagiku, salah satu monsterku adalah pesimis. Rasanya, semakin banyak aku belajar, hidup ini semakin menakutkan. Aku takut pada perubahan yang tak pernah memelankan pedal gasnya. Aku takut pada manusia-manusia yang semakin hilang kesadaran, larut dengan hiruk pikuk dunia. Aku takut pada ledakan-ledakan yang terus bermunculan belakangan ini. Mereka cepat sekali, dan berat rasanya untuk menyesuaikan diri sambil tetap waras. Saat ini, semakin banyak aku belajar, aku jadi semakin pesimis. Semakin takut untuk bersuara dan memunculkan diri. Aku takut salah, takut tidak relevan, takut tertinggal. Aku sangat tidak percaya diri dan merasa kecil. Ah, siapalah aku yang hanya satu diantara 7,8 milyar manusia lainnya? Dan siapalah aku diantara seluruh manusia yang pernah hidup di...

Memulai Kebiasaan Baik

Ini sebenarnya masalah mental, tak perduli tahun baru atau bukan, kalau mau memulai kebiasaan baik ya mulai saja. Tapi tahun baru adalah momen yang bagus untuk memulai hal baru. Di sana ada energi dan semangat besar untuk memulai sesuatu. Di tahun 2022 ini, aku punya tiga resolusi utama dan beberapa resolusi pendamping. Di antara resolusi pendamping itu adalah memulai (lagi) kebiasaan-kebiasaan baik. Karena di tahun-tahun sebelumnya aku sudah melakukan kebiasaan ini, tapi masih tidak konsisten. Ada beberapa hal yang aku evaluasi dari ketidak konsistenanku dulu. Diantaranya adalah, tidak menghilangkan kebiasaan buruk . Kebiasaan baik hanya bisa dilakukan jika aku berhenti melakukan kebiasaan buruk. Jika waktu ku habiskan untuk melihat sosial media, aku jadi tidak punya waktu untuk membaca buku. Ketika aku terus saja punya akses pada junk food , aku tidak akan bergerak menyiapkan makanan sehat. Targetnya terlalu berat. Mulai dulu dari yang paling ringan, ambil sampel, dan ukur kemampuan....

Dua Ribu Dua Satu

Hari ini tangal 31 Desember, hari terakhir di tahun 2021. Ku lihat di whatsapp satus, beberapa teman membuat video recap kegiatan mereka selama satu tahun. Jujur aku iri sekali dengan mereka. Mereka terlihat sangat keren dan bahagia. Terlihat sangat puas dengan hari-hari yang telah mereka jalani. Sedangkan di sini, banyak sekali yang aku evaluasi. Banyak sekali kesalahan dan kelalaian yang telah aku lakukan. Mulai dari wisuda yang tertunda lagi, rencana bisnis yang gagal lagi, kehilangan beberapa kebiasaan baik, melewatkan banyak kesempatan berharga, tidak ada tambahan relasi baru, malah beberapa ikatan pertemananku menjadi,   entahlah... aku belum sanggup membahasanya. Aku merasa kalah di tahun ini, aku merasa tidak menjalani hidupku dengan maksimal. Ya, aku sangat tidak puas dengan hidupku di tahun 2021. Aku merasa aku bisa menjadi lebih baik lagi.  Aku bisa berusaha lebih keras, lebih disiplin, lebih sabar, lebih gigih. Aku bisa membuat hidupku lebih lapang, lebih bersyukur...

Gajah Yang Bodoh

Ingatkah kamu tentang cerita seekor gajah sirkus yang dirantai kakinya? Kurang lebih ceritanya seperti ini. Tersebutlah seekor bayi gajah yang ditangkap dari hutan dan dijual kepada pengelola sirkus. Bayi gajah ini dikurung dan dirantai kakinya. Berkali-kali dia mencoba melarikan diri, tapi rantai itu selalu menghentikan usahanya. Bayi gajah itu terus berusaha dan berusaha, namun semua usahanya selalu gagal. Pada akhirnya bayi gajah itu menyerah, dan pasrah untuk dilatih menjadi gajah sirkus. Dia sudah putus asa, dan berkeyakinan bahwa tidak mungkin dia bisa melepaskan diri. Tahun-tahun berlalu, dan bayi gajah itu sudah dewasa. Namun dia tidak pernah lagi mencoba berusaha untuk melepaskan diri dari rantai. Dia sudah punya ketetapan bahwa melepaskan diri dari rantai adalah hal yang mustahil. Andai dia mau mencoba sekali lagi saja, tentu dia bisa melakukannya dengan mudah. Dia sudah tumbuh besar dan kuat, tidak ada yang bisa menghalanginya untuk melarikan diri. Saat pertama kali diberi t...

Konsisten Adalah Kekuatan

Tidak sebentar aku mempelajari hal ini, namun tak kunjung mendapatkan hasil. Usahaku tidak kurang, konsisten sudah dijaga, pengembangan sudah dilakukan, waktu sudah banyak ku habiskan. Namun tanganku masih saja hampa. Sore ini aku belajar sesuatu tentang kesabaran dan konsistensi. Tentang proses seseorang yang membelah tembok dengan paku dan palu. Bahwa dia harus sabar dan konsisiten melakukan pukulan demi pukulan yang sama sekali tidak ada hasilnya. Tidak menunjukkan progres apa-apa. Dibutuhkan puluhan bahkan ratusan pukulan, hingga pada satu titik, dimana satu pukulan saja, telak membelah dan merubuhkan tembok yang kokoh itu.